10 Ribu Hektare Lahan Disiapkan untuk Industri Pertahanan

M Sholahadhin Azhar    •    Rabu, 23 Aug 2017 16:48 WIB
alutsista tnipertahanan negara
10 Ribu Hektare Lahan Disiapkan untuk Industri Pertahanan
Ilustrasi: Masyarakat melihat-lihat peralatan pertahanan pada Pameran Industri Pertahanan di Lapangan Bhineka Tunggal Ika, kompleks Kementerian Pertahanan, Jakarta. Foto: MI/Mohamad Irfan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pertahanan menyiapkan 10 ribu hektare lahan untuk pembangunan fasilitas industri pertahanan. Hal ini untuk menggenjot industri pertahanan Tanah Air agar mampu memproduksi komponen sendiri, dan melepas ketergantungan kepada negara lain. 

"Saya sudah siapkan 10 ribu hektare untuk PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, dan PT Pindad," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu 23 Agustus 2017.

Ryamizard  tak bersedia menyebut di mana lokasi pasti lahan itu. Mantan KASAD ini mengatakan, posisinya masih rahasia, tetapi berada di daerah Lampung. "Setelah ini saya ke Lampung lihat (lokasi)," imbuh dia.

Saat ini, BUMN di bidang pertahanan bisa dikatakan hanya memiliki sedikit lahan. PT Pindad misalnya, hanya memiliki lahan total seluas 40 hektare. Rencananya, luas lahan bakal diperbesar hingga 3 ribu hektare. Soal anggaran perluasan itu, Menhan belum bisa memastikan.

Yang jelas, pihaknya tengah menyurvei ketersediaan lahan. Persiapan ini dianggap penting dilakukan, belajar dari kondisi sebelumnya di mana proyek sudah dicanangkan dan dibuka tetapi pembebasan lahan berjalan alot. Apalagi, ketersediaan lahan semakin lama semakin menipis.

"Saya siapkan dululah. Kalau 5 tahun lagi enggak akan bisa, karena enggak ada tempat lagi," kata Ryamizard.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut, pihaknya sebagai pengguna alat utama sistem persenjataan menilai penguatan industri pertahanan sangat dibutuhkan. Pasalnya, tren perkembangan di industri ini menuju ke arah yang positif. Gatot pun mendukung iktikad Menhan menyiapkan lahan.

Meski demikian, ia juga meminta seluruh pihak bersabar. Hal ini mengingat pengembangan industri pertahanan sangat berbeda dengan industri lain. 

Pertama, kata dia, soal transfer teknologi yang memerlukan waktu bertahun-tahun supaya Indonesia bisa berdikari. Contohnya, pembangunan kapal selam kerja sama Indonesia-Korea.

"Industri strategis ini bertahap tidak bisa langsung, kita alih teknologi sebagainya. Tapi kemajuan juga pesat, contohnya kapal selam, pesawat tempur juga kita sudah mulai," kata Gatot.


(OGI)