Pengamat: Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi Antiklimaks

   •    Jumat, 10 Aug 2018 14:24 WIB
pilpres 2019
Pengamat: Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi Antiklimaks
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ma'ruf Amin (kanan) melambaikan tangan seusai mendaftarkan diri di gedung KPU, Jakarta. (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak)

Jakarta: Pengamat Politik Yunarto Wijaya menyebut pencalonan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 adalah antiklimaks. Nama calon wakil presiden yang dipilih kedua kubu jauh dari perkiraan dan bukan nama yang selama ini beredar.

Yunarto menilai ada logika terbalik dari pemilihan cawapres kedua kubu. Prabowo yang diyakini akan mengambil cawapres ulama berdasarkan rekomendasi ijtima ulama pada akhirnya memilih Sandiaga Uno yang berlatar belakang pengusaha dan masih satu partai.

"Bahkan di kubu Jokowi tidak ada yang menyangka. Bukan hanya menggandeng tokoh dengan jaringan politik Islam tetapi ulamanya sendiri. Ini cukup mengagetkan," ujarnya dalam Metro Siang, Jumat, 10 Agustus 2018.

Yunarto mengatakan keputusan Jokowi bersama parpol koalisi mengambil figur cawapres dari kalangan ulama adalah tindakan tepat manakala kubu Prabowo tidak bisa merealisasikannya.

Meski sejak Pilpres 2014 Prabowo konsisten bersama dengan parpol yang mengatasnamakan diri mereka sebagai koalisi umat. Faktanya mantan Danjen Kopassus itu lebih memilih figur yang lebih 'mapan' dari segi pemenuhan kebutuhan logistik.

"Ketika sehari sebelumnya sudah mendapat bocoran ternyata Prabowo bukan dengan Abdul Somad tetapi dengan partainya sendiri artinya keduanya (Prabowo-Sandi) tidak memiliki simbol (representasi) umat," kata dia.

Menurut Yunarto kendati strategi mendulang suara dengan memilih calon pendamping dari tokoh agama sudah dilakukan, Yunarto mengatakan tugas Jokowi dan parpol pendukungnya masih sangat panjang.

Terpenting saat ini Jokowi harus mampu membangun narasi dari sosok Ma'ruf Amin yang tidak hanya berhenti pada atribusi ulama. Peran Ma'ruf dalam konteks ulama ketika masuk ke administrasi pemerintahan harus benar-benar dioptimalkan. 

"Itu yang menurut saya terlihat antiklimaks. Mungkin bukan pilihan terbaik tapi realistis dengan sikap dan kondisi yang ada," jelas dia.




(MEL)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA