Indonesia Ingin Parlemen Negara-Negara Islam Lebih Unjuk Gigi

Faisal Abdalla    •    Sabtu, 13 Jan 2018 23:50 WIB
parlemenorganisasi kerja sama islam
Indonesia Ingin Parlemen Negara-Negara Islam Lebih Unjuk Gigi
Plt Ketua DPR Fadli Zon (kanan) didampingi - Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Nurhayati Ali Assegaf menghadiri sidang komite eksekutif PUIC, di Taheran. Foto: istimewa

Teheran: Sidang Komite Eksekutif Uni Parlemen Negara-negara Organisasi Konferensi Islam/ OKI (The Parliamentary Union of the OIC Member States, PUIC) digelar di Teheran, Iran. Delegasi parlemen Indonesia dipimpin langsung oleh Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPR RI, Fadli Zon. 

Fadli mengatakan dalam Sidang Komite Eksekutif hari ini, Indonesia mengusulkan sebuah draf resolusi agar PUIC segera melakukan reformasi dan revitalisasi organisasi. Hal tersebut diusulkan delegasi Indonesia lantaran PUIC selama dinilai kurang bergigi. 

“Kita harus bercermin kepada organisasi-organisasi internasional lain. Mereka, misalnya, bisa memainkan peran yang nyata dalam diplomasi internasional, termasuk dalam membela kepentingan negara-negara yang tergabung dalam grup. Semua resolusi yang mereka hasilkan juga bersifat mengikat. Dengan demikian organisasi jadi berwibawa. Nah, PUIC sejauh ini belum menjadi organisasi semacam itu," ujar Fadli dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 13 Januari 2018.

Fadli mengatakan ada banyak permasalahan di negara-negara Muslim yang di mana PUIC seharusnya bisa memainkan peranan penting. Misalnya krisis kemanusiaan di Rohingya, hingga klaim sepihak AS terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. 

"Kita tidak melihat peran nyata PUIC dalam permasalahan-permasalahan itu. Organisasi yang beranggotakan lima puluh empat negara ini ternyata tak memiliki taji. Bukan hanya di mata dunia internasional, tapi juga di mata negara-negara anggotanya sendiri. Jadi, ada sesuatu yang perlu segera diperbaiki dari organisasi ini.” tukas Fadli. 

Fadli mengatakan resolusi Indonesia ditanggapi positif oleh delegasi dari negara-negara lain. Ia mengatakan agenda terdekat yang akan dilakukan adalah memproses usulan perubahan Statuta PUIC, "Seperti halnya ASEAN, organisasi multilateral ini tak punya gigi dan nyali karena tidak pernah mereformasi statuta pendiriannya. Padahal, zaman terus berkembang dan semua itu butuh untuk disikapi.” imbuh Fadli. 

Resolusi tersebut, lanjut Fadli, akan diakomodasi dalam pernyataan akhir Kenferensi PUIC kali ini. Semangat melakukan revitalisasi PUIC yang dicetuskan Indonesia mendapat dukungan mayoritas anggota Komite Eksekutif.

Sidang Komite Eksekutif hari ini merupakan bagian dari pembukaan Sidang Umum PUIC. Sidang Umum PIUC akan dihelat hingga 17 Januari 2018 mendatang.


(SCI)