Kalla Sindir Labschool UNJ

Dheri Agriesta    •    Rabu, 07 Feb 2018 17:35 WIB
pendidikan
Kalla Sindir Labschool UNJ
Wakil Presiden Jusuf Kallameninjau stand pameran karya sekolah ketika menghadiri acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 di Pusdiklat Kemendikbud, Depok, Jabar. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla menyindir Labschool yang digagas Universitas Negeri Jakarta. Sistem yang diterapkan sekolah itu dianggap lebih berguna jika diterapkan di daerah tertinggal.

Kalla pernah menerima rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang membanggakan sekolah laboratorium besutan mereka. Dia lalu menanyakan kenapa sekolah dengan konsep hebat seperti itu jusru memasang biaya yang mahal.

"Karena yang dimaksud labschool itu justru sekolah yang kumuh dijadikan baik. Kalau baik tetap baik itu bukan kemajuan, minta maaf Pak Arif (Arief Rachman, mantan kepala SMA Labschool)," kata Kalla di Pusdiklat Kemendikbud, Serua, Depok, Rabu, 7 Februari 2018.

Dia mengatakan tak ada yang istimewa jika sekolah dengan sistem pendidikan maju seperti itu hanya menerima calon siswa pintar. Sekolah itu istimewa jika membuat lulusan mereka lebih pintar daripada sebelumnya.

Meski begitu, Indonesia membutuhkan sekolah serupa itu. Kalla menyebut sekolah dengan kualitas pendidikan tinggi bisa menjadi tolok ukur bagi sekolah lain.

"Sekolah seperti Labschool ini benchmarking (tolok ukur), tapi yang harus dibuat justru Anda bikin lab sekolah dasar yang agak di kampung, sehingga Anda bikin bagaimana sekolah ini bermutu," jelas Kalla.

Baca: Guru Diminta tak Abaikan Mutu Pendidikan

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menganalogikan labschool sebagai laboratorium. Laboratorium adalah tempat peneliti mengecek dan menelaah virus dan mencarikan obat dari virus itu. Di bidang pendidikan virus itu adalah kebodohan.

"Coba bikin laboratorium di sekolah yang biasa, (lalu bikin) menjadi luar biasa, itu baru penemuan," tambah Kalla.

Sekolah seperti Labschool pun bisa menjadi wadah bagi lulusan sarjana pendidikan dari universitas negeri. Pasalnya, lulusan sarjana tak serta merta bisa menjadi guru. Lulusan ini butuh latihan dan pengalaman untuk memiliki jiwa pengajar.

"Memang cenderung sekolah pendidikan itu makin ramai bukan karena ingin jadi guru, tapi karena melihat kesejahteraan guru lebih baik daripada pegawasi negeri sipil yang lain," jelas Kalla.





(OGI)

KPK Dalami Dugaan Pencucian Uang Novanto

KPK Dalami Dugaan Pencucian Uang Novanto

1 day Ago

Saat ini proses persidangan masih fokus pada penyelesaian perkara korupsi KTP elektronik yang d…

BERITA LAINNYA