Isu Komunis Lekat dengan Jokowi Sejak Pilpres 2014

   •    Selasa, 17 Apr 2018 11:30 WIB
pilpres 2019
Isu Komunis Lekat dengan Jokowi Sejak Pilpres 2014
Presiden Joko Widodo menghadiri Harlah PPP di Semarang, Jawa Tengah. (Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra)

Jakarta: Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rommahurmuziy buka-bukaan terkait asal usul munculnya isu PKI dan isu antiislam yang disematkan pada Presiden Joko Widodo saat kontestasi Pilpres 2014. Ia menyebut isu tersebut sengaja dibuat untuk menjatuhkan Jokowi.

"Isu prokomunis, antiislam, jelas muncul pada Pilpres 2014. Sebelum beliau jadi capres isu itu tidak muncul sama sekali," ungkapnya dalam Metro Pagi Primetime, Selasa, 17 April 2018. 

Pria yang karib disapa Rommy ini mengatakan pada 2010, saat Jokowi mencalonkan diri sebagai wali kota Solo maupun gubernur DKI Jakarta pada 2012, isu tersebut tidak muncul.

"Tapi ketika 2014, muncul. Artinya isu komunis itu manufacturing, memang isu buatan," katanya

Mantan Wakil Ketua Strategi Pemenangan Prabowo-Hatta ini bahkan mengungkap pernah disodori dumi tabloid Obor Rakyat yang di dalamnya memojokkan Jokowi dengan isu-isu sensitif.

Ia saat itu diminta mengoreksi namun menolak lantaran apa yang disajikan dalam tabloid itu begitu tendensius menyerang pribadi Jokowi.

Faktanya, meskipun Rommy menolak untuk memasukkan tabloid itu dalam strategi kampanye Prabowo-Hatta, Obor Rakyat kadung menyebar. "Dan itu membuktikan ada yang membuat dan menyebarkan."

Rommy mengatakan 28 ribu eksemplar disebarkan ke sejumlah pondok pesantren dan 720 ribu eksemplar lainnya disisipkan ke masjid-masjid. Kampanye hitam melalui Obor Rakyat pun berhasil menggiring opini umat Islam bahwa Jokowi memang prokomunis.

Bahkan sekitar dua minggu sebelum pemungutan suara, elektabilitas Prabowo-Hatta melampaui Jokowi-JK. Namun tak berlangsung lama.

"Dari awal (elektabilitas) jauh, menyusul, kemudian turun lagi. Kenaikan ini mungkin berkaitan dengan peredaran Obor Rakyat yang sudah diedarkan tiga edisi. Artinya cara ini efektif," katanya.

Ia pun memprediksi pada tahapan Pilpres 2019 yang akan dimulai sekitar empat bulan mendatang isu serupa akan muncul kembali. Apalagi belakangan ini eskalasi aduan tentang ujaran kebencian terus meningkat.

Dalam kalkulasi matematis Rommy, ketika pilpres kembali mengontestasikan Prabowo dan Jokowi, maka akan muncul dua kubu.

Dari dua kubu tersebut taruhlah ada 320 ribu caleg dari seluruh parpol yang menjadi peserta pemilu, ke-320 ribu orang itu akan terbagi dua kubu dan sudah pasti mengerahkan tim terbaik untuk memenangkan capres yang diusung. 

Ratusan ribu caleg tersebut, kata Rommy, tentu memiliki tingkat intelektualitas yang berbeda. Ketika isu tendensius salah satu calon diembuskan begitu liar dan ditelan begitu saja oleh masyarakat, isu serupa lainnya yang bisa menjatuhkan lawan akan sangat mudah diproduksi. 

"Saya hanya ingin mengimbau mari selenggarakan kontestasi yang bermartabat karena kita sekarang disorot dunia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dengan mayoritas muslim. Kalau model kampanye hitam terus dilakukan bangsa kita akan tenggelam dalam kehancuran," jelas dia.




(MEL)