Radikalisme Adalah Musuh Bersama

Faisal Abdalla    •    Senin, 14 Aug 2017 16:51 WIB
taruna merah putihradikalisme
<i>Radikalisme Adalah Musuh Bersama</i>
Kiri-kanan: Kepala UKP-PIP Yudi Latif, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan moderator Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari.

Metrotvnews.com, Jakarta: Persoalan radikalisme dan gerakan terorisme menjadi salah satu perhatian Taruna Merah Putih (TMP). Karena itu panel pertama simposium nasional TMP mengangkat tema soal "Intoleransi, Ancaman Bagi Kebhinnekaan Dan Persatuan Bangsa."

Simposium Nasional ini mengusung tema besar "Bangkit Bergerak Pemuda Indonesia Majukan Indonesia." Hadir sebagai pembicara dalam panel ini adalah Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian,  Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif dan Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid. Panel pertama ini dimoderatori Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari.

Gatot mengingatkan, semua warga negara Indonesia jangan mau ditakut-takuti oleh kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa. Gatot mengajak para pemuda dan mahasiswa menjadi garda terdepan menjaga keutuhan bangsa. Sebab dua elemen ini lah yang mengawal dan menobrak kesadaran bangsa untuk merdeka.

"Peran pemuda dan mahasiwa dalam sejarah sangat penting untuk meraih kemerdekaan,” kata Gatot di acara simposium TMP di Balai Kartini, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Senin 14 Agustus 2017.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar menjadi negara super power. Pasalnya Indonesia memiliki tiga syarat menjadi negara super power. Antara lain sumber daya manusia (SDM) yang sangat besar, sumber daya alam (SDA) yang kaya, dan memiliki wilayah yang sangat luas. "Tidak semua negara memiliki potensi selengkap Indonesia," kata Tito.

Tito mengatakan hanya lima negara yang memiliki potensi tersebut, antara lain Cina, India, Amerika, Rusia, dan Indonesia. Karena itu, ia meminta seluruh masyarakat mensyukuri nikmat yang telah Tuhan titipkan kepada bangsa ini.

Untuk menjadi negara super power lanjut Tito, langkah yang harus dilakukan adalah menyolidkan kekuatan internal dengan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

"Tidak ada lagi cakar-cakaran di dalam, saling berkompetisi negatif apalagi primordialisme semakin kuat. Kita adalah satu bangsa seperti yang telah dimaklumatkan dalam Sumpah Pemuda," katannya.

Sementara Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid mengatakan, radikalisme adalah masalah bersama. Semua warga mempunyai kewajiban yang sama mengatasi radikalisme, termasuk civil society.

"Radikalisme adalah masalah kita semua. Sehingga semua kita mempunyai kewajiban yang sama mengatasi radikalisme, termasuk civil society," kata Direktur Eksekutif The Wahid Institute, Yenny Wahid.

Yenny mengatakan, ada beberapa faktor penyebab seseorang menjadi radikal. Di antaranya ada perasaan teralienasi, kesenjangan ekonomi dan juga ujaran kebencian yang didasari dengan teks-teks keagamaan yang dimanipulasi.

"Ujaran kebencian tak boleh menguasi ruang publik ini. Ini bukan hanya tugas polisi tapi juga semua elemen masyarakat," kata Yenny.

Menurut Yenny, Indonesia memiliki dasar dan modal utama dalam menangkal gerakan radikalisme, yaitu Pancasila. Pancasila merupakan jawaban dari berbagai persoalan bangsa saat ini.

Sedangkan menurut Kepala UKP-PIP Yudi Latif saat Indonesia merdeka, Indonesia tak punya modal apa-apa. Bahkan kas negara saat itu masing kosong. Namun 10 tahun kemudian, Indonesia sudah menjelma menjadi pemimpin bagi negara-negara Asia dan Afrika.

"Para pendiri bangsa kita memiliki karakter, mental dan optimisme dalam membangun negara," kata Yudi.

Yudy mengajak peserta simposium merawat dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Gagasan Pancasila merupakan wujud dari negara paripurna.

"Mari kita jaga rumah kebangsaan kita dari ujara kebencian hingga membuat energi positif kita habis. Mari kita memberikan ruang pada perbedaan, memberikan ruang untuk yang berprestasi demi kebahagian hidup bersama," kata Yudy.


(MBM)