Sekjen PDIP Cerita Perjuangan Bung Karno dan Ulama

K. Yudha Wirakusuma    •    Senin, 17 Jul 2017 11:42 WIB
pdi perjuangan
Sekjen PDIP Cerita Perjuangan Bung Karno dan Ulama
Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto--MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Ulama dan tokoh Islam memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan ulama dan tokoh Islam bersinergi dengan Bung Karno.

Bung Karno mempelajari tentang Islam ketika beliau mondok di tempat Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Ketika beliau banyak belajar dengan Kiayi Haji Hasyim Asy'ari, kemudian beliau banyak berkirim surat dengan tuan Hasan (Ahmad Hasan).

"Bung Karno memikirkan bagaimana Islam hadir tidak hanya sekadar sebagai rahmatan lil 'alamin. Tapi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Islam Is A Progress, kata Bung Karno, angkatlah api perjuangan Islam dalam perjuangan mendapatkan kemerdekaan Indonesia itu," demikian diceritakan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam acara Halal Bihalal dan Konsolidasi PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso, Minggu 16 Juli 2017.

Baca: Jejak-Jejak Keislaman Bung Karno

Kalau saat ini ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa PDI Perjuangan ada jarak dengan Islam, maka itu tidak masuk akal. PDI Perjuangan, tentu akan terus mengikuti cara perjuangan Bung Karno yang bersinergi dengan para ulama dan tokoh Islam, dalam mewujudkan bangsa Indonesia ini maju dengan berkeadaban.

Berbagai upaya juga dilakukan untuk menjaga spirit Islam yang rahmatan lil 'alamin. Salah satunya dilakukan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri turut serta bersama tokoh NU seperti Rois Aam PBNU KH Ma'ruf Amin. Pada tanggal 13 Juli lalu mendeklarasikan Majelis Zikir Hubbul Waton.

"Agar kita betul-betul bisa menjaga spirit keagamaan kita agar Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, dan Islam mampu menjadi sebuah spirit didalam kemajuan kita sebagai sebuah bangsa," imbuh Hasto.

Prinsip politik PDI Perjuangan yang bersinergi dangan NU dan juga para ulama sama seperti yang dilakukan Bung Karno. Bahkan Bung Karno pernah menegaskan, kalau dadanya dibelah, maka didalamnya yang ada adalah hati Islam.

"Tetapi Bung Karno sadar, bahwa republik Indonesia dibangun untuk semua. Republik Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, berbagai macam suku bangsa, ini punya ikrar pada 28 Oktober tahun 1908 untuk menyatakan diri sebagai satu bangsa, yang bertanah air satu," jelasnya.



Dalam kesempatan itu, Hasto juga menceritakan bagaimana ketika Ibu Megawati menjadi presiden. Saat itu, Megawati pun mewarisi semangat perjuangan dan nasionalisme Islam tersebut. Contohnya dalam menghadapi dan memerangi terorisme, saat itu Presiden Megawati tidak mau diatur oleh kekuatan asing.

"Bahkan didalam pidato di PBB, Ibu Megawati mengatakan akar bahwa persoalan terorisme karena ketidakadilan masalah Palestina. Karena itulah Republik Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina dengan seluas-luasnya saudara," beber Hasto.

Hasto Apresiasi Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso

Hasto mengapresiasi Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso H Irwan Bachtiar Rahmat yang dalam memimpin partai. Dia menganggap Bondowoso mengedepankan kebersamaan dengan para alim ulama, para ustad, khususnya bersama keluarga besar nahdiyyin.

"Bondowoso ini kabuputen yang betul-betul sangat memahami keinginan untuk menyatukan diri antara manusia dengan alam rayanya," ungkap Hasto.


(YDH)