Partai Berkarya: Kemiripan Lambang dengan Golkar Hanya Kebetulan

Muhammad Al Hasan    •    Rabu, 21 Feb 2018 09:57 WIB
partai politik
Partai Berkarya: Kemiripan Lambang dengan Golkar Hanya Kebetulan
Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto didampingi Sekjen Badaruddin Andi Picunang. MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Partai Berkarya angkat bicara mengenai lambang yang dinilai mirip dengan Partai Golkar. Sekjen Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang menegaskan, pemilihan lambang yang serupa hanya kebetulan.

"Secara kebetulan saja," kata Badaruddin di Kantor DPP Partai Berkarya, Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Selasa, 20 Februari 2018.

Badaruddin mengungkapkan Partai Berkarya mengambil ide yang disampaikan dalam sila kedua dan ketiga Pancasila. Sila kedua berlambang rantai dan sila ketiga berlambang beringin.

Dua lambang sila itu disatukan dalam lambang Partai Berkarya. "Jadi persatuan Indonesia yang diikat oleh tali persaudaraan dalam bingkai NKRI, kira-kira begitu," kata Badaruddin.

Penggunaan warna kuning juga bukan berarti ingin menyaingi Partai Golkar. Badaruddin menyebut setiap partai memiliki hak memilih warna apa pun. Meski begitu, ia mengaku pemilihan warna dipengaruhi latar belakang pimpinan partai yang dekat dengan Partai Golkar.

"Mungkin juga disebabkan Ketua Dewan Pembina (Tommy Soeharto) orang Golkar, bapaknya pendiri Golkar, dan kebanyakan dari kami orang Golkar," jelas Badar.

Bantah Menggembosi Golkar

Kemiripan lambang antara Partai Berkarya dan Partai Golkar memunculkan beragam tudingan. Salah satunya, Partai Berkarya dinilai ingin menggembosi suara Partai Golkar.

Namun, Badaruddin membantah tudingan itu. "Enggak ada sama sekali maksud dan tujuan untuk menggembosi suara Golkar," kata dia.

Badaruddin menegaskan Partai Berkarya tak hadir begitu saja. Partai ini tak terbentuk karena kekecewaan terhadap Partai Golkar.

Buktinya, Partai Berkarya dibentuk jauh sebelum musyawarah nasional Partai Golkar digelar. Partai Berkarya pun dideklarasikan sebelum munas Partai Golkar terakhir yang diselenggarakan di Bali.

"Kalau partai yang dilahirkan Golkar sebelumnya ada Gerindra, Hanura, dan Nasdem. Saya kira mereka terlahir setelah munas itu artinya ada kekecewaan, kalau kami enggak,'' pungkas Badaruddin.


(DRI)