Butuh Peran Perempuan di Sektor Maritim

   •    Rabu, 14 Mar 2018 20:55 WIB
kesetaraan gender
Butuh Peran Perempuan di Sektor Maritim
Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto saat menjadi tamu kehormatan di acara Pameran dan Konferensi ke-15 APM ke-15, Rabu 14 Maret 2018. Foto: Istimewa

Jakarta: Peran perempuan dalam dunia kemaritiman sudah dimulai sejak lama. Laksamana Malahayati salah satu contohnya. Namun, hingga kini jumlah pelaut perempuan masih lebih sedikit dari laki-laki.

Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) mencatat per 9 Maret 2018, jumlah pelaut perempuan mencapai 10,320 orang dari total jumlah pelaut yang ada, yakni 899.768 orang.

"Meski begitu, peran perempuan dalam industri maritim Indonesia cukup banyak. Beberapa jabatan strategis di dunia kemaritiman bahkan dipegang perempuan," kata Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto saat menjadi tamu kehormatan di acara Pameran dan Konferensi Asia Pacific Maritime (APM) ke-15, seperti dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Maret 2018.

Peran perempuan yang dimaksud antara lain menjadi pelaku usaha pelayaran, menjadi pucuk pimpinan manajemen perusahaan pelayaran, pejabat di kementerian terkait kemaritiman, pakar hukum maritim, dan konsultan hukum maritim.

Dia menutukan perbedaan perlakuan gender antara perempuan dan laki-laki di dunia maritim Indonesia sudah mulai mengikis. Ini terjadi seiring semakin besarnya peran perempuan di kancah maritim.

Kesempatan berkembang bagi perempuan di dunia maritim sangat terbuka, tergantung dari kompetensi individu masing-masing.

“Tidak ada perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan di dunia maritim Indonesia. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” kata dia.

Baca: Perempuan Adalah Agen Perubahan untuk Perdamaian

Salah satu perempuan yang berhasil berkiprah di sektor kemaritiman adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Menurutnya, Susi sangat dihargai atas prestasi dan kinerjanya selama ini.

“Peran perempuan dan laki-laki di dunia maritim Indonesia sudah menuju arah positif dalam kesamaan pemberian hak dan kewajiban, kendati peran perempuan masih harus terus didorong."

Menurutnya, pemberdayaan perempuan pada sektor maritim bukan ditujukan menjadi pesaing bagi laki-laki, melainkan bersinergi antarkeduanya.

“Karena dalam menjawab tantangan dan menangkap peluang masa depan di bidang maritim membutuhkan kolaborasi gender.”




(UWA)