Poros Ketiga Kecil Kemungkinan Bisa Terbentuk

Astri Novaria    •    Rabu, 14 Mar 2018 05:30 WIB
pilpres 2019
<i>Poros Ketiga Kecil Kemungkinan Bisa Terbentuk</i>
Pengamat Politik Hanta Yudha -- Foto: Antara/ Wahyu Putro

Jakarta: Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha mengatakan kemungkinan terbentuknya poros ketiga di Pilpres 2019 sangat kecil. Hal itu bergantung pada dinamika politik yang terjadi saat ini.

Setidaknya ada lima partai politik yang sudah menyatakan dukungannya terhadap Joko Widodo, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai NasDem, Partai Hanura dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Total perolehan suara lima partai itu mencapai 52,2 persen.

"Poros ketiga masih mungkin tapi apabila dari 5 partai itu bertambah satu lagi, jadi ada 6 partai maka tertutup kemungkinan peluang poros ketiga," ujar Hanta saat dihubungi Media Indonesia pada Selasa 13 Maret 2018.

Hanta mengasumsikan bila Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membentuk poros kedua dengan total perolehan suara keduanya, yakni 20,1 persen. Selanjutnya, poros ketiga kemungkinan terbentuk oleh Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan total perolehan suara ketiganya, yakni 27,9 persen.

"Kalau bicara kemungkinan masih ada. Tapi peluangnya kecil. Jika Gerindra dipastikan berkoalisi dengan PKS. Sementara ada sisa tiga partai lainnya dan satu saja dari tiga partai itu bergabung (mendukung) ke Jokowi maka tidak bisa membentuk poros baru. Tidak cukup membentuk koalisi," tandasnya.

Baca: Zulkifli Pesimistis Kandidat Poros Ketiga Bisa Lawan Jokowi

Selain itu, lanjut Hanta, belum ada figur calon wakil presiden yang mampu mengalahkan Jokowi. Sementara Prabowo masih dianggap sebagai penantang terberat Jokowi. "Nama-nama lain belum ada muncul sampai hari ini. Kalaupun ada, itu jauh sekali gapnya," imbuhnya.

Hal ini kata dia yang menjadi perhitungan partai politik jelang Pilpres 2019 mendatang. Ia berpendapat, daripada Partai Demokrat membuat poros ketiga lebih baik meninggikan posisi tawarnya kepada Jokowi. Salah satunya seperti mengajukan nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Cawapres Jokowi.

"Ketimbang betul-betul ingin membentuk poros ketiga, analisis saya mengatakan lebih baik meninggikan posisi tawar kepada Jokowi. Walaupun saya pribadi sangat setuju adanya poros ketiga, itu bagus buat demokrasi banyak muncul calon alternatif," ungkapnya.

Baca: Roy Suryo Anggap Poros Ketiga Menguntungkan

Lebih lanjut, konstelasi politik masih cair dan bisa berubah jelang Agustus 2018 mendatang. Ia juga mengingatkan Jokowi agar berhati-hati memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya di Pilpres 2019 mendatang.

"Harusnya Demokrat kalau mau bergabung ya bergabung saja sekarang. Kalau bilang ingin AHY jadi cawapres itu sulit karena akan mengganggu soliditas konsolidasi partai lainnya. Maka itu harus berhati-hati Jokowi tentukan cawapresnya, jangan sampai mengurangi soliditas koalisinya jangan sampai ada yang lepas dan malah nanti bisa bentuk poros ketiga, sama saja kan," pungkasnya. 

 


(Des)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

11 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA