Kasus Korupsi Menggerus Elektabilitas Golkar

Dheri Agriesta    •    Rabu, 12 Sep 2018 17:28 WIB
pilpres 2019pemilu serentak 2019
Kasus Korupsi Menggerus Elektabilitas Golkar
Rilis hasil survei LSI Deny JA/Medcom.id/Dheri

Jakarta: Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis  turunnya elektabilitas Partai Golkar dibandingkan empat pemilu sebelumnya. Peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby menjelaskan penurunan suara terjadi karena kasus korupsi KTP berbasis elektronik (KTP-el)  yang menimpa eks Ketua Umum Golkar Setya Novanto.

"Dan kasus korupsi baru dari PLTU Riau-1, ini masih membebani Partai Golkar dan memberikan sentimen negatif terhadap citra partai," kata Adjie di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu, 12 September 2018.

Partai Golkar hanya memperoleh elektabilitas 11,3 persen. Perolehan itu membuat partai berlambang beringin berada di peringkat ketiga, di bawah PDI Perjuangan dan Gerindra.

Partai Golkar juga belum bisa mengatasi sentimen negatif yang menimpanya. Adjie menilai  tak ada tindakan positif yang dilakukan partai beringin untuk menangkal itu.

Baca: Gerindra Berpotensi Salip Golkar di Pemilu 2019

Tak adanya kader Golkar yang dicalonkan sebagai presiden atau wakil presiden juga memengaruhi elektabilitas partai. Pilpres dan Pileg Serentak memberi keuntungan kepada partai politik yang mencalonkan kadernya sebagai capres atau cawapres.

"Partai Golkar sebagai salah satu partai besar dan pendukung Jokowi-Ma'ruf belum mampu memperoleh berkah dari pencapresan Jokowi, karena dominannya citra PDI Perjuangan sebagai pengusung Jokowi-Ma'ruf," jelas Adjie.

Survei yang dirilis LSI Denny JA memaparkan perolehan elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2019. PDI Perjuangan jadi jawara dengan perolehan 24,8 persen. Posisi kedua ditempati Gerindra dengan perolehan 13,1 persen disusul Partai Golkar dengan perolehan 11,3 persen.

PKB merupakan menempati posisi keempat dengan perolehan 6,7 persen dan Partai Demokrat di posisi kelima dengan perolehan 5,2 persen.

Survei digelar sejak 12-19 Agustus 2018 menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,9 persen. Survei melibatkan 1.200 responden yang diwawancara secara tatap muka menggunakan kuesioner.


(OJE)