33 Persen Masyarakat Menikmati Hoaks

   •    Rabu, 09 Jan 2019 11:12 WIB
pemilu serentak 2019
33 Persen Masyarakat Menikmati Hoaks
Sejumlah anggota Bawaslu menunjukan poster saat pembacaan Deklarasi Damai Pemilu 2019 di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Adeng Bustomi)

Jakarta: Lembaga survei Indikator Politik Indonesia mencatat sebanyak 33 persen masyarakat menikmati hoaks. Dalam konteks ini hoaks didominasi oleh isu politik dan pemerintahan.

"Hasil riset kita sebenarnya komposisi segmen masyarakat yang mengonsumsi hoaks tidak terlalu tinggi, 33 persen. Angka itu termasuk mereka yang menikmati, mengetahui, dan mempercayai hoaks," ujar peneliti senior Indikator Politik Indonesia Ahmad Khoirul Umam dalam Prime Talk Metro TV, Selasa, 8 Januari 2019.

Tingginya intensitas hoaks membuat Umam yakin bahwa berita bohong yang selama ini beredar bukan cuma bentuk teror namun juga racun terhadap demokrasi. Ironisnya, hoaks tak cuma ditemukan di Indonesia. Negara berkembang bahkan maju sekali pun tak luput dari hal semacam ini.

Kendati demikian, Umam mengatakan masyarakat yang tidak menikmati hoaks dalam konteks isu politik dan pemerintahan masih lebih tinggi ketimbang yang menikmati; 38 persen. Selebihnya atau sekitar 28 persen sangat tidak tertarik dengan hoaks.

"Ini menunjukkan ada segmen tertentu yang (sengaja) memainkan hal tidak produktif," ungkapnya.

Ia menambahkan hoaks dalam upaya mendelegitimasi KPU tetap harus diantisipasi meskipun pada saat yang sama tidak sedikit masyarakat memberi dukungan pada KPU untuk tetap fokus dan profesional. Masyarakat juga memberi perhatian agar KPU tak terpancing sebab jika melakukan hal sebaliknya publik akan mempertanyakan independensi dan netralitas penyelenggara pemilu.

"(KPU) jangan terpancing, karena begitu terpancing akan terlihat oh (KPU) berpihak. Itu yang ingin dilihat penyebar hoaks supaya proses delegitimasi bisa dilakukan," jelasnya.




(MEL)