Komisi III akan Cecar Kapolri Soal Penembakan di Lubuklinggau

Husen Miftahudin    •    Kamis, 20 Apr 2017 18:36 WIB
penembakan di lubuklinggau
Komisi III akan Cecar Kapolri Soal Penembakan di Lubuklinggau
Mobil yang ditembaki polisi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Foto: MI/Dwi Apriani

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Komisi III DPR Arsul Sani menyayangkan tindakan anggota kepolisian yang menembak mobil berisi satu keluarga di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Komisi III sepakat mempertanyakan peristiwa itu kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam rapat kerja yang bakal diselenggarakan minggu depan.

"Komisi III sudah menyepakati, kebetulan minggu depan ada raker Komisi III dengan Kapolri. Itu akan menjadi salah satu materi utama," ujar Arsul di kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 20 April 2017.

Berdasarkan pandangan Komisi III, penembakan itu merupakan bentuk tindakan atas inisiatif sendiri dalam situasi yang dihadapi atau diskresi. Melihat posisi peluru dan segala kemunginan, menurut Asrul, diskresi anggota kepolisian itu tidak tepat. Hal ini yang akan ditanyakan Komisi III kepada Kapolri.

"Karena misalnya bisa ditanyakan, kok yang ketembak kaca dan segala macem, kenapa bukan ban? Apakah polisi yang menembak itu sudah lama tidak latihan menembak atau tidak menggunakan sejata atau bagaimana? Itu antara lain yang akan kita dalami (kepada Kapolri)," kata dia.

Tindakan diskresi anggota kepolisian dengan menembak ke arah penumpang dan pengemudi bisa dibenarkan bila orang yang ada di dalam mobil tersebut mengeluarkan tembakan terlebih dahulu. "Lain kalau mobil itu mengeluarkan tembakan lebih dulu, itu penyerangan," paparnya.

Nah, kata dia, kejadian penembakan di Lubuklinggau bukanlah penyerangan karena penumpang yang ada dalam mobil itu tidak mengeluarkan tembakan. Dalam hal ini, Arsul akan mencecar Kapolri karena anggota kepolisian tersebut mengambil tindakan diskresi dengan menembak ke arah dalam mobil, bukan bagian bawah mobil.

"Dia kabur dan mau menabrak itu karena panik. Kenapa yang tidak ditembak bagian bawahnya mobil, ban dan lain sebagainya. Dan kenapa tidak dikejar lebih dulu," tutur Asrul.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengecam tindakan polisi. Fadli meminta oknum yang menembak mobil tersebut segera dipecat. Menurutnya, tindakan itu termasuk dalam kategori abuse of power .

"Saya kira itu polisi brutal, harus segera ditindak. Masa razia SIM sampai tembak-tembakan. Harus dihukum, enggak bisa razia kaya gitu main tembak aja. Memang peluru siapa itu. Polisi harus segera dipecat dan dihukum," tegas Fadli.

Peristiwa pemberondongan tembakan terhadap mobil bermula saat Polres Lubuklinggau dan Polsek Timur 1 Kota Lubuklinggau menggelar razia di pertigaan Jalan Fatmawati-Lubuk Linggau Timur-Jalan Lingkar, Selasa malam 18 April 2017. 

Mobil Honda City bernomor polisi BG 1488 ON melaju dari arah Mesat Seni menuju Bandara Silampari. Polisi berusaha menghentikannya. Namun, pengemudi tak menggubris dan mencoba menabrak anggota polisi yang tengah merazia.

Beberapa polisi berusaha mengejar. Di tengah pengejaran, satu di antara mereka melepaskan 10 tembakan. Kejadian mengakibatkan Surini, 50, tewas. Dia terkena tembakan di dada. Lima penumpang lainnya terluka. Hanya satu yang tak terkena tembakan.



(UWA)

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

1 day Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA