Kata Wakil Ketua Komisi I DPR Soal Isu Reshuffle

Gervin Nathaniel Purba    •    Jumat, 14 Jul 2017 12:55 WIB
berita dpr
Kata Wakil Ketua Komisi I DPR Soal Isu <i>Reshuffle</i>
Presiden RI Joko Widodo (Foto:Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin angkat bicara mengenai isu reshuffle yang kembali mengemuka. Walaupun reshuffle merupakan hak prerogatif presiden, beberapa pandangan dan analisa soal perombakan kabinet menghiasi pemberitaan media massa.

Menurut pandangannya, wacana reshuffle kali ini harus dibaca pemerintah sebagai bagian dari proses dan persiapan Pilpres 2019. Tentu saja, kegagalan dalam membuat keputusan akan berpengaruh terhadap konstelasi politik dan kemenangan pilpres yang akan datang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan konstelasi politik pada 2019 tidak akan jauh beda dengan peta politik 2014. Dua kekuatan pada Pilpres 2014, antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto, akan tetap menggumpal dan mengkristal pada Pilpres 2019.

Sedikit beda, adalah dukungan Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang semula menjadi pilar Koalisi Merah Putih (KMP) dalam mendukung Prabowo, dan kini sudah masuk dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

Peta kekuatan yang hampir tak berubah ini, jelas TB Hasanuddin, sangat jelas terlihat dari komposisi setiap pengambilan keputusan di lembaga legislatif. Terakhir misalnya, dalam persoalan pro-kontra terhadap Perppu Nomor 2/2017.

Dalam persoalan ini tetap ada kekuatan di Senayan, dengan satu pihak adalah PDI Perjuangan, Partai Golkar, PKB, Hanura, Nasdem dan PPP, dan pihak lain adalah PKS, Gerindra, PAN dan Demokrat.

Suasana serupa juga tampak jelas dalam Pilkada DKI Jakarta dan Pilkada serentak 2017. Peta politik dan aroma dalam Pilkada ini benar-benar menggambarkan dan mencerminkan secara nyata antara kekuatan KMP dan KIH.

Bahkan juga misalnya, dalam hal rencana pemindahan ibu kota, PAN, yang masuk dalam kabinet, jelas tidak mendukung rencana besar pemerintahan Jokowi. "Maka orang awam pun akan menyimpulkan bahwa Pilpres 2019 akan tetap menjadi pertarungan dua kubu yaitu KIH Plus versus KMP minus. KIH Plus artinya, plus Golkar dan PPP," ujar TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis, Jumat 14 Juli 2017.

Oleh karena itu, politisi PDIP ini mengingatkan bahwa reshuffle kali ini sangat menentukan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus benar-benar menggunakan momentum reshuffle ini sebagai upaya konsolidasi. Presiden Jokowi harus tegas dan partai-partai yang tidak sejalan dengan kebijakannya serta tidak setia dalam setiap pengambilan keputusan tidak perlu ada lagi dalam format kabinet.

"Daripada jadi duri dalam daging, mending terus terang saja membuat garis siapa yang akan dihadapi dalam Pilpres 2019. Reshuffle ini harus dilakukan bulan Juli ini, atau tidak sama sekali," pungkasnya.


(ROS)

Yosef Sumartono Mengaku Tak Mengenal Setya Novanto

Yosef Sumartono Mengaku Tak Mengenal Setya Novanto

28 minutes Ago

KPK memeriksa Mantan Staf Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dal…

BERITA LAINNYA