Survei KedaiKOPI: 55,7% Masyarakat Puas Pemerintahan Jokowi-JK

Ilham wibowo    •    Minggu, 08 Oct 2017 20:52 WIB
surveijokowi-jk
Survei KedaiKOPI: 55,7% Masyarakat Puas Pemerintahan Jokowi-JK
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Ibu Iriana Jokowi (kedua kiri) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) yang didampingi Ibu Mufidah Jusuf Kalla (kanan) berfoto bersama saat menghadiri pembukaan Sidang Tahunan MPR Tahun 2017 di Kompleks Parlemen

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) merilis hasil kepuasan masyarakat setelah tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK), Minggu 8 Oktober 2017. Hasilnya, sebanyak 55,7 persen responden mengaku puas.

Pendiri KedaiKOPI Hendri Satrio mengatakan, survei nasional ini dilakukan di delapan kota yakni Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka dan melibatkan 800 responden pada 8-27 September 2017. Hasil survei memiliki margin of error (MoE) kurang lebih 3,5 persen.

"55,7 persen responden puas dengan pemerintahan Jokowi-JK. Ada 43,3 persen menjawab tidak puas dan sisanya tidak menjawab," kata Hendri melalui keterangan tertulis, Minggu 8 Oktober 2017. 

Survei tingkat kepuasan tersebut termasuk berdasarkan pendapat responden terkait realisasi program dan kebijakan Jokowi-JK. Menurut Hendri, pembangunan infrastruktur berada pada angka 32,7 persen dan bantuan kesehatan serta pendidikan di angka 16,3 persen.

"Infrastruktur dan pendidikan adalah dua alasan teratas puas terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Sementara harga kebutuhan pokok yang naik atau mahal pada angka 22,7 persen dan janji yang belum ditepati 8,5 persen merupakan alasan ketidakpuasan terhadap pemerintahan," ujarnya. 

Survei juga menganalisa tentang kondisi Indonesia saat ini. Hasilnya, masyarakat masih mengeluhkan sektor ekonomi saat menjawab pertanyaan terbuka tentang masalah utama yang dihadapi masyarakat saat ini.

"Masalah ekonomi (kebutuhan pokok, BBM dan listrik mahal) 55,4%, masalah kebutuhan lapangan pekerjaan 14,1%, korupsi 3,9%, narkoba 3,3%, berita hoaks tentang SARA 2,5%. Responden yang menjawab tidak tahu ada 7,6%, sisa responden lainnya menyebutkan hal lain selain yang disebutkan," papar Hendri.

Ia menambahkan, survei juga menanyakan tentang pilihan Presiden bila pemilu dilakukan di hari saat pertanyaan diajukan. Responden yang memilih Jokowi 44,9 persen, sementara yang memilih opsi jawaban selain Jokowi ada 48,9 persen dan sisanya tidak menjawab.

Pada opsi jawaban selain Jokowi, kata dia, responden menyebut nama Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Tri Rismaharini, Agus Harimurti Yudhoyono dan beberapa nama lainnya. 

"Hal ini nampaknya juga berpengaruh terhadap pilihan partai politik di 2019. Hanya 41,3 persen responden yang mengaku akan memilih partai politik pengusung Jokowi pada 2019 nanti. 53,5 persen menjawab tidak akan memilih sementara sisanya memilih untuk tidak menjawab atau tidak memilih," tutur Hendri. 

Menurut Hendri, figur cawapres nampaknya akan cukup menentukan pada Pemilu 2019 kelak. Sebanyak 49,9 persen responden mengaku bahwa faktor cawapres mempengaruhi dalam memilih Presiden, sementara 48,4 persen menjawab tidak mempengaruhi dan sisanya tidak menjawab. 

Cawapres untuk Jokowi pada Pemilu 2019, rakyat masih menempatkan nama M. Jusuf Kalla di tempat teratas (15,1%), Prabowo Subianto (13,4%), Gatot Nurmantyo (12%), Susi Pudjiastuti (10,1%), Agus Harimurti Yudhoyono (7,5%), Tito Karnavian (6%), Sri Mulyani (4,8%), Budi Gunawan (0,8%), nama-nama lainnya (13,8%) dan sisanya menjawab tidak tahu.


(HUS)