360

Bonus Demografi dan Tantangannya

   •    Jumat, 19 May 2017 11:58 WIB
pertumbuhan penduduk
Bonus Demografi dan Tantangannya
Para pencari kerja memadati arena Job Fair Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sidoarjo di GOR Tennis Indoor Sidoarjo, Jawa Timur. (foto: ANTARA/Umarul Faruq)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kurang dari tiga tahun, populasi pencari kerja di Indonesia akan meningkat hingga menyentuh angka 12 juta orang.

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapati menilai, meningkatnya populasi ini tak lepas dari tidak berhasilnya program keluarga bencana di masa lalu. Jika ditinjau, mereka yang melahirkan anak pada kisaran tahun 1950-1980 rata-rata memiliki 5-6 anak.

Sementara mereka yang melahirkan pada rentang 1990-2000, rata-rata memiliki 3-4 anak. Hal inilah yang menyebabkan jumlah usia produktif di Indonesia meningkat pesat.

"Sementara target kita 2,1. Itulah pertumbuhan penduduk yang seimbang," kata Kepala BKKBN Surya Chandra Surapati, dalam 360, Kamis 19 Mei 2017.

Surya mengatakan berlimpahnya populasi otomatis berpengaruh pada meningkatnya jumlah pencari kerja. Hal ini menandai Indonesia tengah memasuki fase bonus demografi, yang berarti jumlah usia produktif yang bekerja lebih banyak ketimbang yang tidak bekerja.

"Struktur usianya 15-64 tahun dan akan mendominasi lebih dari 50 persen. Ini hanya satu kali terjadi, di negara maju sudah lewat masa bonus demografinya," ujarnya.

Berlimpahnya generasi emas ini, kata Surya, bisa menjadi keuntungan bagi negara sebagai modal pembangunan jika kualitasnya memenuhi standar indeks pembangunan manusia (IPM). Sayangnya, sebagian besar dari mereka rata-rata hanya menempuh pendidikan selama 7,9 tahun saja.

"Kualitas manusia di kita diukur dari rata-rata lama sekolah. Data menunjukkan rata-rata lama bersekolah orang Indonesia adalah 7,9 tahun. Artinya SMP kelas dua saja tidak selesai, berarti hanya punya ijazah SD saja," kata Surya.

Bukan hanya keuntungan, bonus demografi ini bisa menjadi bumerang manakala jumlah populasi penduduk tidak diimbangi dengan kualitas manusianya. Mengingat, rata-rata tingkat pendidikan masyarakat produktif di Indonesia hanya lulusan sekolah dasar.

"Yang terjadi kemudian justru bencana kependudukan, demografi disaster. Atay meminjam istilah TNI proxy war," katanya.




(MEL)