Satgas Diminta Terus Negosiasi dengan Kelompok Bersenjata Papua

Dhaifurrakhman Abas    •    Sabtu, 11 Nov 2017 19:59 WIB
kelompok bersenjata di papua
Satgas Diminta Terus Negosiasi dengan Kelompok Bersenjata Papua
Wakil Ketua Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. Foto: MI/Susanto

Jakarta: Wakil Ketua Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, meminta Satgas Terpadu yang terdiri dari TNI dan Polri tak patah arang dalam negosiasi pembebasan sandera dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB ). 

Sebab, hingga kini, KKB di Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, masih menolak negosiasi pembebebasan 1.300 orang sandera.

"Aparat keamanan tetap harus melakukan langkah-langkah persuasif dan preventif agar sandera bisa terbebas dari intimidasi dan ancaman kelompok bersenjata, serta tidak menimbulkan korban jiwa. Saya yakin satgas terpadu dari polisi dan TNI bisa mengatasi persoalan itu," kata Hassanudin dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 11 November 2017.

Hasanudin meminta satgas mewaspadai jumlah anggota kelompok tersebut yang diprediksi berjumlah ratusan, mengingat mereka mengisiolasi dua desa, Desa Kimbely dan Desa Banti.

"Harus diwaspadai juga, karena kelompok bersenjata itu mengurung dua kampung. Jumlah anggotanya pasti puluhan atau bisa jadi sampai ratusan," ujar dia.

Dirinya juga meminta Badan Intelijen Negara (BIN) untuk terlibat secara penuh dalam melakukan pemetaan agar Satgas Terpadu bisa melakukan tindakan secara terukur, Sebab, BIN dinilai berpengalaman dan memiliki kisah sukses dalam menyelesaikan masalah dengan kelompok separatis. 

"BIN juga harus terlibat secara penuh. BIN memiliki kisah sukses dalam merangkul tokoh separatis di Aceh," tutur Politikus PDI Perjuangan ini.

Sebagai informasi, menurut keterangan pihak kepolisian, sebanyak  1.300 sandera saat ini masih terisolir. Para sandera juga dijadikan tameng hidup oleh KKB itu. Hal ini dilakukan sebagai upaya perlindungan diri bagi KKB tersebut dari satgas terpadu. 

Warga yang disandera juga diancam agar tidak keluar dari wilayah isolasi. Saat ini, hanya perempuan yang diberi akses ke luar kampungnya untuk berbelanja bahan makanan. Namun, laki-laki tidak diberikan akses dan dilarang keluar dari wilayah tersebut.


(SCI)