Elektabilitas Jeblok, PSI Sesalkan Larangan Iklan Kampanye

Whisnu Mardiansyah    •    Kamis, 13 Sep 2018 11:44 WIB
partai solidaritas indonesia
Elektabilitas Jeblok, PSI Sesalkan Larangan Iklan Kampanye
Ilustrasi--Medcom.id

Jakarta: Rilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memprediksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak lolos ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold). Dalam survei elektabilitas PSI hanya mencapai 0,2 persen.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal PDI Raja Juli Antoni mengatakan hasil survei tak bisa dijadikan ukuran. Dari internal partainya elektabiltas PSI melebihi hasil survei LSI.

"Kami akan pelajari secara detail hasil survei itu. Bagus sebagai masukan. Meskipun survei internal hasil lebih baik dari pada itu," kata Raja saat dihubungi wartawan, Kamis, 13 September 2018.

Di sisi lain, Raja menyesalkan larangan iklan kampanye di media televisi dan surat kabar partainya oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Sebagai peserta baru Pemilu 2019, partainya memiliki ruang sedikit untuk memperkenalkan kepada masyarakat.

"Rasanya hasil itu wajar karena selama ini kami dibatasi undang-undang untuk berkampanye melalui iklan di TV," keluh Raja.

Baca: Survei: PDI Perjuangan Berpotensi Mengukir Sejarah

Ia yakin di sisa waktu tujuh bulan menuju pemilihan anggota legislatif, partainya masih bisa mengerek elektabilitas hingga mencapai batas aman ambang batas parlemen sebesar 4 persen suara nasional.

"Insyaallah kami percaya, tujuh bulan adalah waktu yang cukup menaikan elektabilitas. Niat kami tulus untuk sama-sama membangun bangsa, masak enggak dapat dukungan rakyat," pungkasnya.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memprediksi enam partai tak lolos ambang batas parlemen.  Elektabilitas enam partai tersebut jauh di bawah ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

Di antaranya  Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Hanura hanya mendapatkan suara 0,6 persen, PBB dan PSI 0,2 persen, serta Berkarya, Garuda dan PKPI yang hanya meraih 0,1 persen.


(YDH)