Mereka Menolak Disebut Kutu Loncat

Media Indonesia    •    Senin, 17 Oct 2016 12:27 WIB
partai politikpilgub dki 2017
Mereka Menolak Disebut Kutu Loncat
Politikus Demokrat Ruhut Sitompul. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Meski jelas berpindah kubu dan mengalihkan dukungan, sejumlah politikus menolak disebut kutu loncat. Penyaluran pilihan politik pribadi yang berlainan dengan keputusan partai kerap menjadi alasan.

Ketua Departemen Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengakui pengalihan dukungannya kepada bakal calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok didasarkan atas keyakinan pribadinya setelah melihat kinerja sang petahana.

Ia menyadari pilihan berisikonya itu bertentangan dengan garis kebijakan Partai Demokrat yang sudah menetapkan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai bakal calon gubernur. Dalam pandangannya, Agus bukanlah kader partai. Konsekuensi pemecatan pun ia terima.

"Kalau aku apa pun terima keputusan Pak SBY (Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono). Enggak ada kalau dibilang aku seolah-olah kutu loncat, mau pindah dari satu partai ke partai lain. Bagi aku, sekali Demokrat tetap Demokrat," tegas Ruhut, pekan lalu.

Menurut dia, kebenaran keyakinan politiknya sudah terbukti walau bertentangan dengan partai. Salah satunya ketika ia mendukung Joko Widodo di Pilpres 2014. Padahal, Demokrat jadi pendukung Prabowo Subianto dan arus besar di partai meminta pemecatan Ruhut.

"Yang menang siapa? Jokowi kan. Banyak yang tanda tangan minta aku dipecat, tapi Pak SBY enggak pecat kok. Aku malah menjadi menko polhukam-nya partai dan jadi koordinator juru bicara," kata Ruhut, yang kini sudah diberhentikan dari posisi juru bicara partai.


Politikus Demokrat Hayono Isman (tengah) didampingi Ketum Garda Pemuda NasDem Martin Manurung (kanan) dan Relawan Muda Mudi A Hok Ivanhoe Semen dan Mandra Isman (kiri) saat jumpa pers  penyampaian dukungan terhadap Ahok dan Djarot  di Posko Relawan Muda Mudi A Hok, Jakarta Theatre, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2016). Foto: MI/Mohamad Irfan

Tidak hanya Ruhut, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman pun mengalihkan dukungan ke pasangan bakal cagub/wagub Ahok-Djarot Saiful Hidayat. Dia mengatakan itu ia lakukan bukan atas dasar misi pribadi atau untuk mendapatkan posisi di kubu lain. Alasannya ialah ia kesengsem pada kinerja petahana.

Hayono pun siap dipecat dari partai. "Semuanya ada konsekuensi dalam hidup. Saya enggak ada masalah selama itu demi kebaikan publik. Saya percaya partai dapat memahami pilihan pribadi saya," akunya.

Keputusan mengikuti pilihan yang berlawanan dengan partai juga ditempuh Boy Sadikin, mantan Ketua DPD I PDIP DKI Jakarta. Ia menolak mendukung pasangan Ahok-Djarot, kemudian menyeberang ke tim pemenangan kubu pasangan bakal calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pasangan itu diusung Partai Gerindra dan PKS.

Boy dengan sukarela keluar dari PDIP. "Ketika Ketua Umum PDIP sudah memutuskan, itu kan final sifatnya. Nah, hati nurani saya berbeda pilihan dengan DPP. Daripada menghalangi partai, saya memilih keluar."

Putra mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin itu mengaku tidak berpikir untuk menjadi bagian kader partai selepas PDIP. Dirinya masih menikmati status yang 'merdeka'. "Saya enggak mau jadi kutu loncat, belum kepikiran masuk partai lain," cetus Boy.

Selain tiga politikus tersebut, Anies, salah satu bakal cagub, pun pada prinsipnya berpindah kubu. Di Pilpres 2014, ia menjadi bagian tim sukses utama Jokowi-Jusuf Kalla, yang merupakan penantang Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Demikian pula Ahok yang sempat berpindah partai beberapa kali, mulai Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Partai Golkar, Partai Gerindra, hingga akhirnya berstatus nonpartai. 


(MBM)