Selamat Pagi Indonesia

Menyatukan Kembali Indonesia dalam Semangat Ramadan

   •    Jumat, 19 May 2017 14:21 WIB
nkri
Menyatukan Kembali Indonesia dalam Semangat Ramadan
Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka Maman Imanulhaq. (Foto: MI/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hanya tinggal hitungan hari seluruh umat muslim di dunia akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Bukan cuma ibadah wajib, datangnya Ramadan juga menjadi momen bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali bersatu.

Dalam semangat Ramadan, pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka Maman Imanulhaq mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menjadi Indonesia.

"Ramadan itu madrasah rohani, sekolah bagi ruh kita untuk kembali disucikan. Menyatukan rohani itu dalam koridor hidayah kebangsaan," ujarnya dalam Selamat Pagi Indonesia, Jumat 19 Mei 2017.

Sama halnya dengan Ramadan, sudah saatnya Indonesia menyatukan kembali ruh bangsa yang sempat tercerai berai. Seperti Ramadan, masyarakat bisa mengingat kembali semangat kebangkitan nasional yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa menjadi Indonesia yang darussalam.

Maman mengatakan harus disadari oleh semua pihak bahwa Indonesia bukanlah negara Islam, namun tempat dimana nilai Islam dan nilai keagamaan lain bisa tersemai dengan baik untuk membangun kepentingan bangsa.

Dari Indonesia, masyarakat belajar bahwa Indonesia bukan negara untuk agama tertentu, tetapi negara yang menjadi contoh bagaimana kehidupan beragama berlangsung.

"Setelah pilkada dianggap rohani kita berbeda, komitmen kita tidak sama. Bahkan ada orang yang sudah lupa bahwa sesungguhnya dia beragama. Padahal tujuan agama itu memuliakan sesama manusia dan mengangkat derajat kita indonesia," kata politikus PKB itu.

Dengan perbedaan apapun, kata Maman, itulah Indonesia. Harus diterima sebagai bagian dari pluralisme dan filosofi kebhinekaan. Islam bukanlah agama pemecah tetapi agama pemersatu yang menghargai segala perbedaan.

"Ketika Islam datang kenapa bisa diterima dimana-mana? Sederhana, Islam diterima bukan karena memaksa ajarannya bukan menindas dengan kalimat Allahu Akbar, Islam diterima karena nilai kasih sayang dan penghormatannya pada kearifan lokal," kata Maman.




(MEL)