Presiden: Indonesia Harus Ikut Irama Perubahan Dunia

Achmad Zulfikar Fazli    •    Kamis, 18 May 2017 14:38 WIB
jokowi
Presiden: Indonesia Harus Ikut Irama Perubahan Dunia
Presiden Jokowi. Foto: Dok/Istimewa

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo meresmikan pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2017. Rapat berlangsung di Istana Negara, Jakarta.

Jokowi mengingatkan, dunia cepat berubah. Indonesia akan tertinggal dari negara lain kalau tak mengikuti irama perubahan itu.

"Kalau kita bekerja linear, kalau kita bekerja rutinitas, ditinggal kita. Pasti ditinggal. Kerja kita monoton, ditinggal kita," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis 18 Mei 2017.

Internet, misalnya. Menurut Jokowi, di saat masyarakat Indonesia tengah belajar internet, dunia sudah lebih maju dengan menggunakan mobile internet.

Begitu juga dengan mobile intenet. Saat masyarakat Indonesia baru mengenalnya, dunia sudah mengganti mobile intenet dengan artificial intelligence atau mesin cerdas.

"Kita belum rampung belajar satu sudah berubah ke yang lain. Inilah yang sering saya katakan perubahan dunia yang cepat sekali karena teknologi. Jadi kalau kita masih berkutat rutinitas ini itu, ditinggal kita," ucap dia.

Ia menyesalkan masyarakat masih banyak yang berkutat dengan hal yang tak produktif, seperti berdemo, saling memfitnah, serta menghujat. Sedangkan, dunia luar sudah maju dengan teknologinya, seperti Elon Musk yang membuat mobil fantastik masa depan.

Kemudian, gagasan lain dalam membuat hyper loop atau memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat, serta berbicara mengenai space X atau bagaimana mengelola ruang angkasa agar berguna bagi manusia.

"Fitnah, kabar-kabar bohong, apakah ini mau diterus-teruskan? Coba kita Elon Musk dulu berbicara mengenai masalah paypal diganti lagi Jack Ma. Tidak lagi kita bicara membayar sesuatu barang, beli barang dengan credit card. Sekarang membayar barang di mall, supermarket sudah pakai mobile phone, smartphone," kata dia.

Ia juga tak habis pikir, Indonesia selalu berkutat dengan masalah cantrang. Masalah petani, pupuk, bibit, irigasi tak pernah rampung.

Menurut dia, pemerintah seharusnya sudah membawa nelayan agar mereka bisa ke offshore, atau aquaculture. Sedangkan, petani dibawa ke mekanisme dan teknologi yang modern.

"Kitanya terus menerus berpuluh-puluh tahun masalah irigasi enggak rampung-rampung. Masalah benih enggak rampung-rampung. Nelayan masalah cantrang enggak rampung-rampung. Kita mau ke mana?" kata dia.

"Inilah yang harus kita bangkitkan, disiplin nasional, etos kerja nasional kita yang harus kita rubah, mindset kita, pola pikir kita harus kita rubah semuanya. Enggak bisa kita seperti yang kemarin-kemarin. Saya sudah gregetan betul dengan masalah-masalah tidak produktif itu," tambahnya.


(MBM)

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

8 hours Ago

KPK kembali memeriksa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman. Irman diperiksa sebagai saksi un…

BERITA LAINNYA