Megawati Diminta Pahami Posisi Gerindra Sebagai Oposisi

Whisnu Mardiansyah    •    Jumat, 11 Jan 2019 17:36 WIB
megawatipdi perjuangan
Megawati Diminta Pahami Posisi Gerindra Sebagai Oposisi
Nizar Zahro (Foto:Nizarzahro.com)

Jakarta: Ketua DPP Partai Gerindra Nizar Zahro meminta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri memahami posisi partainya saat ini. Sikap Gerindra yang kritis jangan dinilai sebagai upaya menyudutkan.

"Jadi kalau misalnya dari pihak kami mengoreksi kinerja pemerintah, itu tanggung jawab kami sebagai oposisi atau penyeimbang bukan menyudutkan," kata Nizar saat dihubungi wartawan, Jumat, 11 Januari 2018.

Megawati semestinya tak menanggap kritis adalah upaya menyerang atau menyudutkan pemerintahan. Meski, Presiden Jokowi saat ini ikut kembali berkompetisi di Pilpres 2019. "Lalu apa karena Pak Jokowi sekarang sebagai Calon Presiden kita tidak boleh koreksi?," tanya Nizar.

Nizar berpesan Megawati harus bisa memahami posisinya saat ini sebagai ketua umum partai penguasa. Jadi, tak anti-kritik dari partai non pendukung pemerintah. "Kalau misalnya dalam konteks Pilpres, perlu diingat dan perlu posisi Ibu Mega itu petahana atau incumbent," pungkasnya.

Baca: Sentilan Megawati Terhadap Anak Buah Prabowo Disesalkan

Sebelumnya, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyentil perilaku tim sukses (timses) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Megawati heran koalisi pemerintah kerap disudutkan, padahal Mega dan Prabowo dekat.

"Saya berteman baik dengan Pak Prabowo. Aneh kan ya, justru anak buahnya selalu menampilkan yang menyudutkan kita," kata Megawati saat memberi sambutan pada Rakornas PDI Perjuangan di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Kamis, 10 Januari 2019.

Megawati juga menyebut Prabowo merindukan dirinya. Calon presiden nomor urut 02 itu kangen menyantap nasi goreng Megawati. "Seorang terdekat Pak Prabowo membisikkan ke saya 'Pak Prabowo kangen lho Bu sama nasi gorengnya Ibu'. Kan lebih enak ya. Semoga didengar beliau dan anak buahnya," tutur Megawati.

Sayangnya, kondisi saat ini membuat ia 'mumet'. Padahal, sebagai bangsa perlu menjunjung segala kemampuan dan kecerdasan yang mampu membumikan Pancasila.

"Kalau yang dicari suka mumet pak, apa hayo, mumet bukan pusing saja tapi sudah sampai muter, penuhi dada. Jangan jadi bangsa yang pesimistis dan harus tetap semangat," kata Megawati.


(YDH)