Fokus Pemerintah di Dua Tahun Sisa Kepemimpinan

Irvan sihombing    •    Jumat, 13 Oct 2017 10:27 WIB
jokowi-jk
Fokus Pemerintah di Dua Tahun Sisa Kepemimpinan
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)--MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, London: Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memasuki usia tiga tahun. Pemerintahan Jokowi-JK memiliki fokus, di dua tahun sisa waktu kepemimpinan.

"Pertama kita butuh lapangan kerja, kita butuh perdagangan yang naik, kita butuh pendapatan masyarakat dan produktivitas naik. Jadi dibutuhkan infrastruktur dan investasi," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di London, Inggris, Kamis 12 Oktober 2017.
 
Kalla menambahkan, sebenarnya banyak investor yang ingin berinvestasi di Tanah Air, namun ragu lantaran aturan yang kerap berubah. "Kadang-kadang kita kementerian itu, kadang-kadang mengubah-ubah aturan, sehingga tidak konsisten. Sehingga orang mulai berinvestasi itu ragu-ragu jangka panjang," ucapnya.

Kalla sempat berbicara kepada Jokowi agar menteri tak membuat keputusan menteri yang dianggap tidak efektif. "Jangan mengubah-ubah kebijakan terlalu cepat seperti itu karena yang harus dilihat jangka panjang. Kita selalu kampanye ke mana-mana kita mengundang investor untuk berinvestasi, tetapi di lain pihak ada pihak yang begitu keras meminta divestasi lebih cepat," ucapnya.

Kalla mencontohkan Freeport. Menurutnya, tidak perlu tergesa-gesa meminta Freeport divestasi. "Toh mereka sudah menanam modal di Indonesia, mereka bayar pajak dan memajukan ekonomi Papua. Tidak perlu meminta mereka divestasi tahun ini, tahun depan. Orang kan butuh juga investasi jangka panjang," paparnya.

Jangan sampai Indonesia bernasib seperti Venezuela. Venezuela berpikir divestasi, nasionalisasi, akhirnya hancurlah Venezuela. "Dunia tidak bisa lagi berpikir jangka pendek harus jangka panjang," terangnya.

Jelang Tahun Ketiga Pemerintahan Jokowi-JK

Tahun ketiga masa jabatannya, Kalla juga memperhatikan tingkat kepuasan masyarakat. Dia mengatakan, dalam survei kepuasan masyarakat dengan kinerja pemerintahan di atas 60 persen.

"Walapun target pembangunan kita atau pertumbuhan ekonomi sebesar 7% belum tercapai karena kondisi ini, tetapi kita optimistis tahun depan karena kondisi dunia membaik," ujarnya.

Menurut IMF, lanjut Kalla, sampai akhir 2017-2018 sangat baik, cukup baik. Tentu efeknya high comodity. "Sekarang (ekspor) batu bara juga sudah kembali 160 lebih sawit juga sudah mulai baik. Nah itu, dua komoditas itu mineral dan lain-lainnya itu yang paling mempengaruhi ekonomi kita, ekspor kita tentunya," paparnya.

Kalla berharap pertumbuhan ekonomi untuk akhir semester kedua ini dan akhir 2018 ini diharapkan ikut baik, tercapai. Tidak mungkin pencapaian pertumbuhan ekonomi tujuh persen, sehingga diharapkan dapat dicapai maksimum enam persen.

"Beberapa hal (faktor pendukung) tentu karena stabilitas kita (merupakan) salah satu yang terbaik di ASEAN. Politik, sosial, kan tidak terjadi apa-apa dibanding Filipina, dibanding dengan Thailand, yang terjadi dengan Myanmar kalau kita bicara tentang ASEAN saja ya, termasuk baik," papanrya.

Menurutnya, perizinan awal sudah bagus. Kalla mengatakan perizinanan memakan waktu tiga jam. "Tetapi proses bisnisnya itu apakah lahan apakah di daerah itu sedikit masih makan waktu. Nah, ini yang harus masih diperbaiki, birokrasi ini. Seperti dengan banyak kepala-kepala daerah itu masih masalah kan. Masalah juga di daerah," imbuhnya.


(YDH)