Pernyataan Kapuspen TNI terkait Senjata Brimob Menuai Kritik

Ilham wibowo    •    Selasa, 10 Oct 2017 21:15 WIB
senjata ilegal
Pernyataan Kapuspen TNI terkait Senjata Brimob Menuai Kritik
Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto (kiri). (Foto: MI/Bary Fathahilah).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernyataan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Wuryanto menuai kritik. Ia menyinggung soal kepemilikan senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) milik Korps Brimob Polri yang punya beragam kemampuan dan belum dimiliki TNI.

"Pernyataan tersebut kurang tepat untuk suasana saat ini yang baru saja sedikit reda, karena komitmen pimpinan TNI dan Polri yang ingin mendinginkan suasana dan situasi politik yang sempat menghangat," kata Ketua Pusat Studi Politik & Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi melalui siaran pers tertulis, Selasa 10 Oktober 2017.

Disamping itu, kata Muradi, pernyataan tersebut tidak mencerminkan komitmen untuk bersama-sama mengupayakan penuntasan polemik senjata yang tekah ditegaskan oleh Presiden untuk segera mungkin diakhiri. Pernyataan Wuryanto berpotensi membangun polemik baru antara TNI dan Polri terkait dengan isu senjata ilegal dan senjata impor.

Menurut Muradi, pengadaan senjata dan amunisi asal Bulgaria yang diimpor Polri merupakan varian terbaru menunjang perkembangan teknologi. Amunisi jenis Ammunition Castior Round RLV-HEFJ yang termasuk dalam paket pembelian senjata itu diketahui memiliki keistimewaan. Mulai ledakan kedua, granat bisa menimbulkan partikel pecahan logam dan meledak sendiri tanpa benturan pada rentang 14-19 detik setelah lepas dari laras.

"Jadi amat wajar jika pernyataan Kapuspen TNI yang menegaskan bahwa amunisi SAGL belum dimiliki oleh TNI karena cepatnya perkembangan teknologi industri persenjataan yang bisa saja TNI belum memesannya atau bahkan industri pertahanan di indonesia seperti Pindad belum memprodksinya," ujar Muradi.

Muradi menganggap pernyataan Wuryanto sebagai  bagian dari otokritik atas tekhnologi persenjataan TNI yang masih belum memadai. Tekhnologi persenjataan yang makin canggih membuat  militer setiap negara dihadapkan pada realitas utk terus memperbaiki dan memodernisasi Alutsistanya.

"Saya memahami pernyataan dari Kapuspen TNI tersebut lebih pada bagian dari upaya otokritik terkait dengan persenjataan yang dimiliki oleh TNI, sehingga di masa yg akan datang, gelar postur TNI dapat lebih baik dan dengan Alutsista yang lebih modern," tandas dia.

 


(SCI)