Orang Tua Akui Lalai Urus Kewarganegaraan Gloria

Achmad Zulfikar Fazli    •    Rabu, 14 Sep 2016 13:10 WIB
kewarganegaraan arcandra tahar
Orang Tua Akui Lalai Urus Kewarganegaraan Gloria
Duta Kemenpora yang juga anggota Paskibraka Gloria Natapradja Hamel (kanan) ikut menghadiri penutupan Diklat Paskibraka Nasional 2016 di PPPON Kemenpora, Cibubur, Jaktim, Rabu (24/8/2016). Foto: MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Gloria Natapradja Hamel, 16, hampir gugur menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada perayaan hari Kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia, Rabu 17 Agustus 2016. Musababnya karena gadis yang duduk di bangku kelas 2 SMA itu memiliki kewarganegaraan ganda.

Orang tua Gloria Natapradja Hamel, Ira Natapradja, mengakui lalai dalam mengurus kewarganegaraan anaknya. Pangkalnya, dia tak tahu bagaimana cara mendaftarkan kewarganegaraan anaknya yang merupakan hasil perkawinan campuran antara warga Indonesia dan warga negara asing.

Selain itu, pemerintah juga tidak memberikan pemberitahuan apa pun perihal pendaftaran kewarganegaraan tersebut. "Di sini yang tidak saya ketahui, bagaimana saya ketahui ini dan bagaimana cara mendaftarkannya itu yang saya tidak ketahui," kata Ira di Kantor Kementerian Hukum dan HAM, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (14/9/2016).


Anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) yang sebelumnya batal menjadi Paskibraka karena memiliki kewarganegaraan ganda Gloria Natapradja Hamel menunggu waktu pelaksanaan upacara penurunan bendera di Wisma Negara, Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (17/8/2016). Foto: MI/Panca Syurkani

Karena itu, Ira menyarankan, para orang tua yang kawin campur tidak hanya mengandalkan pemerintah semata. Menurut dia, para orang tua sendiri harus lebih proaktif mencari tahu bagaimana cara mendaftarkan kewarganegaraan anaknya.

"Kalau tidak agresif (aktif) tidak tahu apa-apa, karena tidak ada surat pemberitahuan apa pun," ujar dia.



Ira menganggap, masalah yang menimpa anaknya ini sebagai hikmah. Sebab, dengan adanya masalah itu, Ira menjadi tahu ada yang harus dibenahi dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.

"Saya dari 2006 sama sekali tidak tahu, di saat Gloria terkena musibah ini menjadi hikmah. Makanya kami melakukan judicial review karena berapa sih yang mengetahui dan berapa besar di Indonesia ini. Banyak sekali yang statelees, karena mereka tidak tahu," kata dia.

 


(MBM)