Wawancara Khusus Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (2-Selesai)

Senjata NasDem di Pemilu Serentak 2019

Arga sumantri    •    Senin, 09 Jul 2018 16:53 WIB
partai nasdemsurya palohpilpres 2019univterbuka
Senjata NasDem di Pemilu Serentak 2019
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh saat diwawancarai Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Rabu (4/7/2018). Foto: MI/RAMDANI

Jakarta: ‘Politik dalam Harmoni’ sepertinya adalah jargon berikutnya Partai NasDem setelah sukses memperkenalkan ‘Politik tanpa Mahar’. Ketua Umum Surya Paloh berkali-kali menekankan kata ‘harmoni’ untuk menghadapi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 saat diwawancara khusus oleh Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun.
 
Di segmen kedua wawancara khusus ini, Surya Paloh banyak berbicara mengenai pencalonan Joko Widodo. Dia juga punya keyakinan akan solidnya partai koalisi pendukung Jokowi. Walaupun, Jokowi kelak tak memilih calon wakil presiden sesuai keinginan partai koalisi.
 
Tak lupa, Surya Paloh juga mengingatkan kadernya untuk tetap membumi. Untuk tetap terus bekerja keras memenangi Pemilihan Legislatif 2019. Ia yakin spirit kemenangan di Pilkada Serentak 2018 akan menular saat kontestasi politik setahun ke depan.
 
Soal capres dan cawapres 2019, bagaimana perkembangan koalisi? 
 
Semangat partai koalisi tetap sama, menanti dan berharap. Hampir rata-rata mengharap semuanya menginginkan jagoannya, capres dan cawapres, bisa merepresentasikan gabungan partai koalisi. Tapi, dari awal, saya katakana, agar partai-partai koalisi harus tetap solid, satu pandang, dan satu bahasa.
 
Saran boleh saja, sumbangsih pikiran boleh saja, tapi kita harus menggarisbawahi sejak awal. Hak prerogatif itu ada di tangan Jokowi, bukan di partai-partai koalisi, jangan di balik. NasDem melakukan itu. 
 
Kalau menimbulkan ketidakpuasan partai koalisi bagaimana? 
 
Wajar saja, tinggal bertanya. Tepuk dada tanya selera, mau bersama Jokowi atau barangkali tidak bersama Jokowi. Yang saya harapkan soliditas ini tetap terjaga. Toh, kita tidak ada sesuatu hal yang rasanya ada perbedaan prinsip, kalau ada hal yang barangkali masalah dialektika, romantikanya, dalam melihat sesuatu permasalahan adalah hal hal yang wajar.
 
Indeks kita, parameter kita, apakah Jokowi sekarang ini sebagai presiden yang didukung partai koalisi? Sudah sesuaikah dengan harapan kita? Atau lebih banyak kurang sesuainya? Kita timbang. Sejauh mana elektabilitas dia. Coba tanya secara jujur.
 
NasDem mendukung tanpa syarat. Saya berkali-kali mendengar Anda sendiri tidak ingin mengajukan diri sebagai cawapres. Masih seperti itu?
 
Ya, jelaslah, jarum jam tidak bisa diputar. Saya pikir demikian. Jadi, ini perlu penegasan. Saya bahkan berharap penuh kawan-kawan yang lain juga tidak kurang memiliki kesadaran yang sama. Adanya soliditas, adanya satu kesatuan, dan kembali mengusung Jokowi dengan memberikan keleluasaan kepadanya. Saudara Jokowi, silakan pilih wakil.


 
Pasti ada nama yang disodorkan? 
 
Nama boleh saja. Ini nama yang kami sodorkan, silakan Bapak yang pilih. Jangan bilang nama ini mesti ada. Kalau enggak ada, saya balik kanan. Bukan begitu. Saya pikir Presiden Jokowi bukan dalam posisi seperti itu sekarang. Saya tidak yakin ada yang tentu berpikir mencoba melakukan applied negative pressure (menekankan hal-hal yang negatif). 
 
Tapi sudah banyak gambar, pamflet, gambar berdua seperti yang dilakukan sejumlah ketua umum seperti Muhaimin Iskandar dan Airlangga Hartarto
 
Itu model perjuangan. Itu bagian daripada style perjuangan. Menurut saya itu sah ya, hal yang harus dihormati. 
 
Ada tidak dampak elektoral dari mengusung Jokowi jauh-jauh hari di Pilpres 2019?
 
Relatif ya. Karena saya tidak melihat ada dampak elektoral ini. Bagi saya ini nanti hasil pemilunya adalah Presiden Jokowi terpilih kembali. 
 
Anda sudah lama di Golkar. Sekarang Golkar salah satu anggota koalisi. Melihat sejarah Pilpres 2004, Pilpres 2009, dan Pilpres 2014, Golkar rata-rata bukan pendukung yang kemudian memenangkan kursi presiden. Tetapi kali ini Golkar akan bersama Jokowi. Apakah bisa dipercaya atau bisa dipegang komitmen untuk itu? 
 
Kalau saya amat percaya. 
 
Kali ini?
Selamanya saya percaya dengan segala kekurangan yang ada. Apalagi kali ini saya yakin dan percaya Golkar adalah pendukung koalisi yang solid. Akan memberikan apa yang terbaik yang bisa diberikan oleh Golkar untuk kemenangan Presiden Jokowi di pilpres yang akan datang.
 

Apakah kemungkinan Pilpres 2019 hanya ada dua kubu? Anda melihat kompetisi kali ini seperti apa? 
 
Akan ada kompetisi yang baik. Harapan saya semuanya bersikap lebih dewasa, berkompetisi dalam harmoni. Kalau memang kita tidak siap berkompetisi di dalam harmoni, sayang saja bangsa ini. Tidak ada artinya kemenangan itu ketika kita merasakan ada orang yang harus terpuruk, terpecah, terhina, atau tersudut. Tidak ada euforia kemenangan yang harus berlebihan, tidak ada juga ratapan, tangisan, kesedihan, hujatan, bahkan datang dari kita yang kalah.
 
Ada kedewasaan yang harus kita bangun dalam spirit ini. Peran para pemimpin dan elite amat menentukan untuk berada di front paling depan untuk menumbuhkan harapan. Selayaknya kita mempersiapkan diri menghadapi kompetisi yang akan datang. 
 
Ada kemungkinan lahir poros ketiga?
 
Kemungkinan itu ada, tapi kecil sekali. Hampir dikatakan mustahil. Kenapa saya katakan mustahil? Karena saya membaca kepentingan partai-partai politik saat ini. Saya belum melihat partai politik mengedepankan apa pun demi ideologi. Jadi, kalau pragmatisme tinggi biasanya incumbent selalu diuntungkan. 
 
Kenapa bisa begitu? 
 
Karena dia memenuhi prasarana itu. Dia mempunyai banyak hal. Maka sebenarnya, kita harus menghormati mereka yang di luar pemerintahan. Karena sebenarnya berjuang di luar pemerintahan itu jauh lebih susah, jauh lebih berat daripada di pemerintahan. 
 
Partai politik baru itu biasanya mengampanyekan politik bersih. Namun, sejarah mencatat, saat berkuasa, banyak kadernya menjadi kotor. Bagaimana NasDem mencoba mengatasi hal itu?
 
Kita boleh berharap semua yang terbaik. Tapi kita harus bersiap juga semua harapan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. 
 
Sama seperti saya sebagai pendiri partai ini tentu berharap partai ini akan berjalan langgeng dengan prinsip idealisme dengan ketokohan mereka mempertahankan dasar-dasar pemikiran yang seperti ini hingga sepanjang masa.
 
Tapi waktu dan tantangan yang berbeda itu akan bisa tercatat dalam sejarah. Maka yang paling utama tetaplah berpikir positif. Tetaplah mengutamakan niat yang baik. Lebih daripada itu, ya berjuang. Hasilnya ya kita bisa terima, mau baik, setengah baik, atau tidak baik. Hidup tidak memberikan jaminan apa yang kita akan capai.
 
Seorang ayah yang baik ingin memiliki anak yang lebih hebat dari dirinya. Tetapi itu pun belum tentu akan tercapai seperti apa yang dia inginkan. Itulah hidup. 


 
Setelah dua periode memimpin Partai Demokrat terkena kasus Hambalang. PKS ada kasus korupsi sapi. Golkar kasus e-KTP. Bagaimana NasDem menyikapi itu?
 
Saya tidak mau itu terjadi, itu adalah janji saya. Saya ingin katakana, apa yang ada dalam semangat, tekad, dan kemampuan diri saya, saya mau konsisten atas ucapan dan perbuatan saya. Saya tidak malu untuk menertawakan kebodohan saya, saya juga tidak berat hati untuk mengakui kesalahan saya dan meminta maaf atas kesalahan itu sendiri. Tapi, saya akan bangkit untuk memperbaikinya.  
 
Apa yang membuat Anda konsisten memperjuangkan gerakan restorasi Indonesia?
 
Saya pikir, modal yang paling besar itu adalah kepercayaan. Modal dasar yang paling utama dan tidak boleh terganggu. Menimbulkan trust, menumbuhkan trust, dimulai dari keyakinan diri sendiri.
 
Kita punya pendekatan rasional. Tapi kita juga memiliki pendekatan nurani, kedua-duanya harus kita pakai, ini kekuatan kita. Dan itulah kodrat kita yang sudah dihadirkan dan diciptakan oleh sang maha pencipta.
 
Apa alasan NasDem mendukung kembali pencalonan Jokowi?
 
Saya banyak kenal presiden, kecuali Bung Karno yang tidak kontak langsung. Setelah itu hampir semua saya kontak langsung. Nah, agak unik ini orang (Jokowi). Presiden yang humble, rendah hati, amat terbuka, sedikit naif, belajar cepat, pekerja keras, dan dia sayang pada negeri ini. Mengutamakan kepentingan negeri ini daripada kepentingan hal lain yang bersentuhan langsung dengan dirinya.
 
Di sini saya lihat ada talenta. Saya mengatakannya sebagai nilai kenegarawanan. Negeri ini memerlukan negarawan yang lebih banyak tumbuh. Apalagi ketika seseorang dalam kapasitas dan jabatannya presiden. Ketika yang hadir hanya politisi biasa dan tak memiliki sifat kenegarawanan, itu malapetaka bagi negeri ini. Jokowi memiliki (kenegarawanan) itu.




(UWA)