Golkar Sudah Ingatkan Aditya Moha untuk Tidak Korupsi

Ilham wibowo    •    Senin, 09 Oct 2017 08:19 WIB
golkarott kpk
Golkar Sudah Ingatkan Aditya Moha untuk Tidak Korupsi
Sekjen Partai Golkar Idrus Marham (tengah). (Foto: MI/Mohamad Irfan).

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekjen Partai Golkar Idrus Marham menyatakan seluruh kader partai sudah diingatkan untuk tidak melakukan korupsi. Seluruh kader partai berlambang pohon beringin itu diminta berkomitmen menempatkan hukum sebagai panglima. 

"Kita sudah mengingatkan bahwa langkah apa pun yang anda (kader Partai Golkar) ambil harus senantiasa memperhatikan aturan yang berlaku. Ingat, kepentingan rakyat dan bangsa lebih utama," tegas Idrus di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Minggu malam 8 Oktober 2017.

(Baca juga: Ketua PT Sulut dan Politikus Golkar Jadi Tersangka Suap)

Idrus menyayangkan praktik korupsi masih terjadi pada kader. Padahal, tindakan korupsi tidak mencerminkan tujuan dan muruah Partai Golkar. 

"Kita tidak menginginkan itu (tindakan korupsi) karena kita sudah memberikan peringatan sebelumnya. Jangan melakukan pelanggaran, tapi ternyata masih ada," tuturnya.

Ia menghargai upaya Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) yang melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kadernya. Penindakan KPK tersebut, kata Idrus, sejalan dengan komitmen partai untuk mencegah keterlibatan kader dalam praktik korupsi.   

"Komitmen KPK sama dengan komitmen Golkar, bagaimana supaya itu (pencegahan korupsi) bisa kita lakukan secara bersama-sama," bilang Idrus.

?(Baca juga: Suap Hakim, Politikus Golkar Disebut Berkorban untuk Ibunya)

Sebelumnya, KPK menangkap politikus muda Golkar, Aditya Anugrah Moha bersama Ketua Pengadilan Tinggi (KPT) Manado, Sudiwardono. Moha diduga menyuap Sudiwardono untuk mengamankan banding perkara korupsi yang dilakukan ibunya, Marlina Moha Siahaan.

"Suap terkait perkara banding Marlina Moha, mantan Bupati Bolaang Mongondow, untuk memengaruhi putusan banding," kata Wakil Ketua KPK Laode M. Syarief di Gedung KPK, Sabtu 7 Oktober 2017. 

Suap sebesar 64 ribu dolar Singapura diciduk dalam OTT yang diberikan untuk memengaruhi putusan banding perkara agar penahanan Marlina tidak dilakukan. Uang dengan total 60 ribu dolar Singapura juga pernah diberikan dalam dua kesempatan berbeda.




(HUS)