Pengamat: Karakter Andi Arief Berlawanan dengan SBY

K. Yudha Wirakusuma    •    Selasa, 08 Jan 2019 18:27 WIB
hoax
Pengamat: Karakter Andi Arief Berlawanan dengan SBY
Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.

Jakarta: Karakter Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief, dinilai berlawanan dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Andi Arief dinilai suka memunculkan kontroversi dengan ikut menyebar kabar hoaks, sementara SBY membangun citra politik santun.

Menurut Dosen Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung, Firman Manan, Andi Arief kerap menggunakan politik ofensif, dengan serangan frontal ke kubu Jokowi-KH Ma'ruf Amin dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Hal itu dinilainya menimbulkan permasalahan terhadap Demokrat. Karena pola yang digunakan Andi Arief berbeda dengan citra yang selama ini terbangun di mata publik.

Dijelaskan Firman, Demokrat selama ini dikenal sebagai partai yang menerapkan strategi politik defensif. Mereka meng-counter isu-isu negatif yang mengarah pada partai.

Selain itu, kata Firman, SBY sebagai ikon Partai Demokrat juga menerapkan politik santun. SBY tidak menyerang secara frontal pihak lain di luar partai.

Baca: Jubir TKN Minta Polri Periksa Andi Arief

Namun kini, strategi politik ofensif yang digunakan oleh Andi Arief dapat mengganggu ritme pola kampanye Demokrat. "Hal ini sekaligus membingungkan pemilih tentang karakteristik Partai Demokrat. Strategi SBY yang membangun citra dirinya sebagai politisi santun sekaligus karakter Partai Demokrat sebagai partai yang santun dapat terkikis oleh pernyataan-pernyataan Andi Arief yang cenderung ofensif," kata Firman Manan, Selasa, 8 Januari 2019.

Dengan demikian, lanjutnya, karakteristik Demokrat menjadi tidak jelas di mata publik. Tak lagi sesuai dengan pola pencitraan yang hendak dibangun SBY.

Apabila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin ada konsekuensi penurunan tingkat elektabilitas PD. "Secara ekstrim, dapat terjadi kondisi dimana Partai Demokrat akan menghadapi kesulitan untuk menembus angka parliamentary threshold sebesar 4% pada Pileg 2019, sehingga Partai Demokrat terancam posisinya untuk kembali masuk ke DPR periode 2019-2024," ungkapnya.

Menurutnya, SBY sebagai ketua umum, harus menekankan kepada kader-kadernya untuk menggunakan strategi politik santun, untuk menyikapi potensi penurunan tingkat elektabilitas. Dan tidak melakukan serangan frontal dalam membangun citra partai.

"SBY harus melakukan pendisiplinan terhadap kader-kader partai, untuk mencegah karakteristik politik santun dari Partai Demokrat tergerus oleh manuver yang dilakukan oleh kader-kader Partai Demokrat seperti Andi Arief," tandas Firman Manan.


(YDH)