Pesan Eksil di Ceko untuk Generasi Muda Indonesia

Agustinus Shindu Alpito    •    Selasa, 26 Jan 2016 11:04 WIB
tahanan politik
Pesan Eksil di Ceko untuk Generasi Muda Indonesia
Rony Surjomartono. (foto:Agustinus Shindu. A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Anak muda zaman sekarang, mungkin tidak akan pernah tahu rasanya diusir dari Indonesia oleh pemerintah karena unsur politik. Namun kisah-kisah seperti itu lazim terdengar dari mereka yang melewati dekade 1960-an dan tumbuh di masa rezim Orde Baru.

Lewat propaganda dan narasi politik, Orde Baru menganggap segala yang berbau Soekarno, Partai Komunis Indonesia, dan negara-negara sosialis, adalah hal yang berbahaya dan patut dibasmi.

Sekelompok pemuda Indonesia pada dekade 1950-an hingga awal 1960-an sempat menggebu-gebu membangun negara dengan lebih dulu menimba ilmu ke luar negeri. Ke tempat di mana ilmu pengetahun yang dilembagakan lewat universitas lebih dulu eksis.

Lewat Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, para pemuda itu diberikan beasiswa untuk belajar ke sejumlah negara seperti Republik Ceko, Rumania, Uni Soviet, Tiongkok, Yugoslavia, serta Albania. Mereka diproyeksikan untuk menimba ilmu untuk membangun Indonesia. Tidak hanya ilmu ekonomi atau teknik, pemerintah juga mengirim para pemuda untuk belajar sastra, musik, dan sinematografi.

Belum tuntas misi mereka, situasi politik bergolak. Mimpi berubah jadi petaka. Rezim Orde Lama tumbang, Soekarno tak lagi memiliki kuasa dan daya politik. Lebih jauh lagi, para pengikut Soekarno dianggap komunis, tak jarang yang diburu dan dipenjara. Prahara ini kerap disebut sebagai peristiwa 65, merujuk pada peristiwa berdarah 30 September 1965 yang disebut orde baru sebagai bentuk pembangkangan dan penistaan terhadap Pancasila.

Imbasnya peristiwa 65 panjang. Termasuk menyeret para mahasiswa muda yang tengah studi di luar negeri.

Rony Surjomartono, adalah seorang eksil yang awalnya mahasiswa studi ekonomi di Sekolah Tinggi Ekonomi Praha, Republik Ceko. Dia menceritakan bahwa situasi politik di Indonesia membuat kehidupan para pelajar di luar negeri genting. Singkatnya, sebagian pelajar yang tidak mengakui pemerintahan Soeharto dicabut kewarganegaraannya.

“Kami kan patriotisme, cinta tanah air, kalau secara paksa disuruh lepaskan (cinta terhadap tanah air) kan enggak bisa. Kami tetap cinta seperti cinta platonik,” kata Rony saat ditemui Metrotvnews.com, Senin (25/1/2016).

Situasi para eksil sulit. Kembali ke Tanah Air pada masa orde baru bukan solusi. Mereka harus menghadapi risiko penangkapan setiba di Indonesia. Komunikasi mereka dengan kerabat dan keluarga di Indonesia pun terputus. Praktis, para eksil benar-benar hidup terasing. Terpenjara tanpa jeruji besi.

“Saya kirim surat enggak terbalas, mereka (keluarga) enggak terima surat saya. Entah siapa yang menghalangi enggak tahu, dan saya tidak menuduh siapa-siapa,” ujar Rony sembari mengangkat bahu.

Bertahun-tahun para eksil hidup tanpa paspor (stateless). Upaya mendapatkan kewarganegaraan di negara lain pun jadi pilihan mau tidak mau.

Rony sendiri baru pada tahun 1991 mendapat kewarganegaraan Republik Ceko. Dia baru memberanikan diri kembali ke Indonesia pada tahun 1998, setelah rezim Orde Baru tumbang dan setelah 35 tahun hidup di Ceko.

Entah apa yang ada di benak Rony mendengar Indonesia. Yang jelas, dia optimistis terhadap generasi muda Indonesia.

“Akhir-akhir ini saya lihat perubahan yang kelihatan (di Indonesia). Saya optimistis, dengan catatan generasi muda harus aktif.  Ini permulaan, sebab kalau kita berpikir objektif, kita akan sampai dengan pemikiran sesuatu yang baik untuk semuanya,” kata pria 72 tahun itu.

Tak ada lagi raut ketakutan di wajah Rony bicara Indonesia. Dia selalu bersemangat mengenang masa lalunya saat hidup di Indonesia.

“Waktu di Solo saya punya band, di kampung saya main gambusan lagu melayu dan lagu hiburan, dulu namanya bukan lagu pop tapi lagu hiburan. Sewaktu masuk di Gama (Universitas Gadjah Mada), waktu perploncoan (masa orientasi mahasiswa), saya tidak diplonco karena bisa main musik disuruh menghibur teman-teman yang diplonco,” kisah Rony sembari tertawa.

Sebelum melanjutkan studi ekonomi di Praha, Rony memang sempat mengenyam pendidikan selama satu tahun di UGM.

Kini, kenangan tinggal kenangan. Jalan hidup membawa Rony tinggal menetap di Ceko. Dia telah memiliki tujuh orang cucu dari hasil pernikahannya dengan perempuan Ceko.

“(Saat ini) Indonesia lebih maju soal demokrasi dari negara lain. Lebih dari 200 juta orang pemilih langsung saat pemilu, itu enggak ada di negara mana-mana.. Ini salah satu yang unik, menggembirakan dan menakutkan. Sebab jika bisa dimanipulasi, itu menakutkan,” kata Rony yang pernah menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Ceko itu.

Rony, dan mungkin ratusan eksil lain yang tersebar di berbagai negara mungkin tak lagi resmi sebagai warga Indonesia, tetapi mereka menyimpan kotak yang berisi penuh soal kenangan dan fakta sejarah kelam negara ini.


(FIT)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA