Kemristekdikti Diminta tak Buru-buru Impor Dosen

K. Yudha Wirakusuma    •    Minggu, 15 Apr 2018 02:02 WIB
tenaga kerja asing
Kemristekdikti Diminta tak Buru-buru Impor Dosen
Ketua DPR Bambang Soesatyo--Antara/Wahyu Putro

Jakarta: Wacana Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendatangkan sekitar 200 dosen dari luar negeri menimbulkan pro dan kontra. Rencana Kemristekdikti itu bakal makin lancar dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Kemristekdikti diminta tak buru-buru mengeksekusi rencana itu. Kementerian yang dipimpin Mohamad Nasir tersebut diminta melakukan pemetaan, tentang kebutuhan setiap perguruan tinggi terlebih dahulu.

“Mengingat dengan banyaknya dosen asing masuk ke Indonesia dapat berdampak pada ketahanan nasional,” kata Ketua DPR Bambang Soesatyo dalam pesan elektroniknya, Sabtu, 14 April 2018.

Dia justru mendorong Kemenristekdikti untuk membenahi terlebih dahulu permasalahan-permasalahan terkait dosen. Misalnya, persoalan fasilitas, sistem penggajian, model ketenagakerjaan dosen, serta ketimpangan sumber daya manusia (SDM) perguruan tinggi di perkotaan dan daerah-daerah di Indonesia.

Bamsoet juga menyarankan ke Kemristekdikti untuk mengadakan rapat bersama dengan Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Asosiasi Dosen Indonesia (ADI). Tujuannya adalah mengkaji kembali wacana kebijakan tersebut dan memikirkan landasannya. 

“Agar wacana kebijakan tersebut tidak menimbulkan permasalahan baru bagi pendidikan dan riset di Indonesia,” ulasnya.

Selain itu, Bamsoet juga mendorong Kemenristekdikti mencari upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas dosen di Tanah Air. Agar fokus sebagai ilmuwan dalam kampus. 

"Berikan dukungan dan pelatihan dosen secara berkala, sehingga perguruan tinggi di Indonesia dapat fokus dalam pengembangan riset di internal kampus serta menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” cetusnya.

Sebelumnya, Menristekdikti M Nasir mengungkapkan, pemerintah berencana mendatangkan 200 dosen dari mancanegara demi mendongkrak reputasi pendidikan nasional di bidang riset dan teknologi. Fokus kebijakan itu adalah mendatangkan dosen untuk sains dan teknologi.


(AGA)