Partai Oposisi Dinilai Kehilangan Fungsi

M Sholahadhin Azhar    •    Jumat, 09 Mar 2018 23:14 WIB
partai politik
Partai Oposisi Dinilai Kehilangan Fungsi
Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti. MI/Ramdani.

Jakarta: Partai politik (parpol) yang berada di jajaran oposisi dinilai tak menjalankan fungsi pengawasan. Parpol oposisi dinilai inkonsisten dalam kebijakan tertentu.

"Misalnya soal revisi KUHP yang dalam salah satu isinya menyoal penghinaan pada Presiden. Itu partai oposisi di DPR enggak setuju," kata Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti saat diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9 Maret 2018.

Partai oposisi menyetujui revisi UU MD3 yang di dalamnya tertuang kebijakan serupa, soal penghinaan pada legislatif yang bisa dipidanakan. Ray menilai hal ini sebagai kegagalan pola pikir. Oposisi tak memainkan peran sebagai penjaga pemerintahan.

"Kalau UU dalam rangka melindungi Presiden mereka tidak mau, tapi sebaliknya mereka mau. Nalar berpikir enggak ada. Dia enggak mengontrol pemerintahan kita," kata Ray.

Seharusnya, partai oposisi memiliki itikad baik membangun pemerintah. Saat ini, mereka dianggap tak memiliki dasar strategi, prinsip pengelolaan dan dasar kepentingan publik dalam bersikap. Sehingga fungsi parpol oposisi tak dijalankan sebagaimana mestinya.

Ray mengambil contoh bagaimana Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Fadli Zon dalam mengambil sikap. Pandangan dan pernyataan keduanya, tak memberi efek berarti bagi masyarakat. Malah seringkali pernyataan petinggi legislatif itu menilai hujatan dari masyarakat.

"Kalau anda jadi petinggi legislatif, lalu pernyataan anda jadi angin lalu atau bahan olok-olok bagi masyarakat, itu masalah. Mestinya evaluasi diri," kara Ray.

Menurutnya, orang sekelas Fahri atau Fadli yang berada di jajaran oposisi bisa dengan mudah menggerakkan masyarakat. Kelebihan ini seharusnya diperhatikan dan dimanfaatkan ke arah yang baik. Bukan dengan mempersoalkan hal remeh temeh, seperti mengomentari Presiden Jokowi yang berlatih tinju.

"Sudah bukan saatnya lagi saudara mempersoalkan hal itu. Malah itu jadi bahan olok-olok," tandas Ray.


(DRI)