Perubahan Pola Sumber Berita dan Kecenderungan Hoaks

   •    Senin, 12 Mar 2018 11:49 WIB
ujaran kebencian
Perubahan Pola Sumber Berita dan Kecenderungan Hoaks
Pegiat Media sosial Anita Wahid dalam deklarasi Masyarakat Indonesia Anti-hoax di Menteng, Jakarta Pusat,. (Foto: MI/Susanto)

Jakarta: Ujaran kebencian dan hoaks yang tersebar di media sosial belakangan ini sangat mudah ditemukan. Di era perkembangan teknologi, masyarakat terutama warganet semakin sulit membedakan informasi yang benar dan salah.

Anggota Komunitas Masyarakat Indonesia Antihoaks Anita Wahid mengatakan ada beberapa hal yang berkontribusi besar dalam penyebaran hoaks di Indonesia. Pertama, perubahan pola sumber berita.

Ia mengatakan 10-15 tahun lalu orang cenderung mendapatkan informasi dari media konvensional seperti koran, radio, maupun televisi secara satu arah. Masyarakat hanya bertindak sebagai konsumen dan meyakini informasi itu benar lantaran media yang menyebarluaskan sudah terverifikasi.

"(Sekarang) dengan teknologi digital semua berubah. Masyarakat, melalui penggunaan internet, bukan cuma konsumen tetapi berperan sebagai produsen dan distributor informasi," kata Anita, dalam Opinion, Sabtu, 10 Maret 2018.

Peran ganda pembaca inilah yang menurut Anita membuat kecenderungan informasi hoaks begitu mudah tersebar. Tingkat literasi digital dan responsibilitas masyarakat yang masih rendah juga berkontribusi pada maraknya berita hoaks.

"Orang malas membaca. Semakin bombastis, orang semakin senang. Merasa penting dan harus segera disebarluaskan padahal dia tidak memahami apa yang disebarkan," katanya. 

Hal lain, kata Anita, pada dasarnya setiap manusia hidup dalam lingkupnya masing-masing. Lingkup yang terbatas inilah yang membuat seseorang meyakini kebenaran hanya berdasarkan opini pribadi atau lingkungannya.

Ketika ada informasi atau berita yang tak sesuai dengan apa yang diyakini, meskipun benar, mereka cenderung akan menolaknya. 

"Hal ini yang membuat hoaks semakin marak. Selama ada berita yang cocok dengan saya misalnya, saya enggak perlu memfilter lagi, yang penting langsung sebar," ungkap Anita. 

Anita mengatakan secara data pihak yang paling banyak 'termakan' hoaks umumnya kelompok masyarakat yang lebih tua. Kecenderungan ini berhubungan dengan kebiasaan masyarakat di era dulu yang hanya mendapatkan informasi secara satu arah dari media konvensional.

Ketika memasuki era modern dengan kecanggihan teknologi internet, kelompok ini menerapkan pola yang sama atas segala macam sumber berita-- terutama dari media sosial-- sebagaimana yang mereka dapatkan dari media konvensional. 

"Kalau seperti ini terus orang gampang dipecah belah karena hoaks itu cara paling gampang melakukan hasut dan fitnah. Orang mungkin mudah mengatakan 'saya hanya membagikan informasi', tapi tidak menyadari bahwa dampak setelah itu besar sekali," jelasnya




(MEL)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA