Kekuatan Militer Disebut Penguat Posisi Tawar Indonesia

Annisa ayu artanti    •    Sabtu, 19 May 2018 01:08 WIB
alutsista tni
Kekuatan Militer Disebut Penguat Posisi Tawar Indonesia
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. (Foto: MI/Rommy)

Jakarta: Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut militer menjadi salah satu kekuatan posisi tawar Indonesia di tingkat regional dan global. Indonesia juga memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mencapai 250 juta jiwa dan sumber daya alam yang melimpah. 

"Kalau ini disatukan, menjadi kekuatan yang besar, apalagi ditambah kekuatan militer, akan semakin memperkuat posisi tawar Indonesia," kata Ryamizard seperti dikutip Antara, Jumat, 18 Mei 2018.

Kementerian Pertahanan terus meningkatkan kemampuan dan kekuatan TNI, termasuk dengan menggunakan alat utama sistem persenjataan buatan dalam negeri. 

"Kapal patroli, helikopter, senjata serbu, semua sudah bisa kita buat, dan telah teruji keandalannya," ucapnya.

Ia mengatakan, Indonesia secara bertahap juga akan memproduksi persenjataan strategis berteknologi tinggi, seperti kapal selam. "Untuk pesawat tempur KFX, kita terus negosiasikan," kata dia. 

Mantan Panglima Kodam Jaya itu menekankan, pihaknya terus mendorong penggunaan alutsista produksi dalam negeri. Pada 2018, Indonesia akan memiliki kapal selam baru KRI Ardadedali-404 yang diproduksi di galangan kapal Daewoo Shipbuilding Marine and Engineering (DSME), Korea Selatan. 

TNI, lanjut dia, juga menerima delapan unit helikopter serang AH-64E Apache, buatan Amerika Serikat. Pada Oktober 2018, Indonesia akan memiliki pesawat tempur Sukhoi (SU-35) buatan Rusia. 

Pembelian alutsista itu merupakan langkah strategis Pemerintah Indonesia dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI), berdasar peluang ancaman yang dihadapi secara regional maupun global. 

"Sejumlah persenjataan strategis itu berperan memberikan efek gentar, mengingat potensi ancaman yang dihadapi juga semakin luas spektrumnya," kata dia.


(AZF)