Canda Wiranto Liburkan Media Sosial

Dheri Agriesta    •    Kamis, 18 May 2017 07:45 WIB
toleransi beragama
Canda Wiranto Liburkan Media Sosial
Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto memberikan keterangan kepada awak media mengenai dugaan kepemilikan paspor AS Menteri ESDM di Jakarta, Senin (15/8)--MI/MOHAMAD IRFAN.

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto melempar canda untuk membuat aman situasi negeri. Kata dia, meliburkan aktivitas di media sosial bisa menjadi solusi.

"Kita liburkan media sosial, aman negeri ini. Nanti kita coba dulu," kata Wiranto sembari tertawa di Gedung Monumen Kebangkitan Nasional, Jalan Abdurahman Saleh, Senen, Jakarta Pusat, Rabu 17 Mei 2017.

Hal ini disampaikan Wiranto saat berbicara dalam diskusi dengan tema Memperteguh Ke-Indonesiaan. Pernyataan itu dikeluarkan menanggapi situasi politik dan sosial yang terjadi saat ini.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara tertawa saat ditanyakan candaan Wiranto itu. Namun, Rudiantara tak membantah hal itu bisa saja dilakukan.

"Moratorium tak bermedsos itu harus dimulai, tapi mungkin tidak seminggu," kata dia.

Rudiantara menambahkan, hal ini bisa saja dilakukan asal masyarakat sadar dengan keuntungannya. Saat ditanyakan apakah hal ini mungkin dilakukan, Rudiantara malah bertanya kembali.

"Saya tanya kamu sebagai bagian dari masyarakat?" kata dia.

Rudiantara menegaskan, candaan yang dikeluarkan Wiranto hanya pemikiran pribadi. Pikiran itu, kata dia, kebetulan sama dengan pemikiran banyak orang.

"Ini sekali-kali, (agar) kita jangan hingar bingar lah," kata dia.

Media sosial menjadi lahan paling panas ketimbang dunia nyata. Media sosial kerap menjadi lahan perang bagi masing-masing pendukung pasangan calon yang bertanding dalam pilkada.

Contoh saja kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama. Meski diputus bersalah dan ditahan dua tahun, pendukung pria yang akrab disapa Ahok itu masih terus berjuang. Tagar seribu lilin buat Ahok pun ramai di media sosial.

Aksi ini pun menuai pro dan kontra. Dukungan mengalir dari sesama pendukung. Tapi, hujatan juga muncul dari mereka yang tak setuju.


(REN)