Dua Teori terkait Skenario Kebohongan Ratna Sarumpaet

   •    Selasa, 09 Oct 2018 12:42 WIB
Kabar Ratna Dianiaya
Dua Teori terkait Skenario Kebohongan Ratna Sarumpaet
Aktivis Ratna Sarumpaet (tengah) tiba di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta: Pengamat Politik M Qodari menyebut paling tidak ada dua teori yang bisa menjelaskan kebohongan terkait dugaan penganiayaan Ratna Sarumpaet tempo hari. Pertama, Ratna tengah mengeksekusi skenarionya sendiri atau kedua kebohongannya sudah dirancang sejak awal oleh aktor intelektual.

"Saya sendiri punya kecenderungan untuk percaya bahwa Ratna ini sedang memainkan skenarionya sendiri karena dia notabene pemain teater, sutradara, dan penulis skenario," ungkapnya dalam Opini Dua Sisi Metro TV, Senin, 8 Oktober 2018.

Menurut Qodari bukan mustahil Ratna sebagai seorang seniman dan orang yang menyukai perhatian menulis dan memainkan sendiri skenario terbesar dalam hidupnya. Indonesia dijadikan sebagai panggung politik dan elite pendukung Prabowo sebagai pemain.

"Bisa saja Ratna melakukan itu. Orang punya kecenderungan dan motivasi yang bermacam-macam. Ada yang memang motivasi hidupnya mendapatkan perhatian," kata dia.

Kemungkinan kedua, lanjut Qodari, Ratna tidak bermain sendiri melainkan menjadi bagian dari plot besar memenangkan pilpres untuk oposisi. Pengalaman di Amerika Serikat misalnya, kemenangan bisa diciptakan dari rasa takut dan delegitimasi publik terhadap pemerintah.

Cerita yang tengah dimainkan Ratna cocok dengan latar belakan Prabowo sebagai penantang. Peluang menang penantang akan besar ketika kepuasan publik terhadap petahana turun. 

"Bisa karena ekonomi, keberpihakannnya lemah, tidak adil dan makmur, itu kan retorika yang dilakukan selama ini. Termasuk mengatakan warga negara ketika hidup di bawah naungan petahana merasa tidak aman dan nyaman."

Strategi semacam ini menurut Qodari pernah dimainkan untuk memenangkan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat. Trump menggaungkan bahwa Amerika berada di bawah ancaman imigran, ancaman Islam, bahkan ancaman Tiongkok yang bisa berdampak buruk pada Amerika.

"Itu modus operandi yang memenangkan Donald Trump sehingga kalau memilih capres lain akan terpuruk dan Amerika Serikat tidak bisa hebat kembali," pungkasnya.




(MEL)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

5 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA