Prime Talk

Kisruh Pilkada di DKI Jakarta tidak Otomatis Menular ke Daerah Lain

   •    Jumat, 19 May 2017 10:19 WIB
nkripilkada 2018
Kisruh Pilkada di DKI Jakarta tidak Otomatis Menular ke Daerah Lain
Guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto: MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pilkada DKI Jakarta telah lama usai, namun disinyalir bukan akhir dari kekisruhan yang terjadi saat kontestasi politik. Apalagi, Indonesia dihadapkan dengan gelaran pilkada 2018 dan pilpres 2019 yang kemungkinan membuat suhu politik kembali memanas.

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra menilai eskalasi politik dimungkinkan bakal terjadi menjelang pesta demokrasi 2018 dan 2019. Tetapi, intensitasnya tidak akan semasif seperti yang pernah terjadi di DKI Jakarta.

"Kasus di Jakarta tidak otomatis akan muncul di daerah lain. Di Jakarta kan ada faktor X nya, terpelesetnya Ahok soal Al Maidah 51," kata Azra, dalam Prime Talk, Kamis 18 Mei 2017.

Azra melihat kisruh yang terjadi sepanjang tahapan pilkada di DKI Jakarta tidak akan signifikan muncul di daerah-daerah lain yang menyelenggarakan pilkada. Hal ini lantaran konstelasi politik dan keadaan masyarakat di masing-masing daerah berbeda.

Meski begitu, guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengimbau kepada seluruh pihak untuk hati-hati, terutama politikus untuk tidak membawa-bawa agama dalam konstelasi politik.

"Bawa agama boleh tapi yang menekankan kejujuran, keadilan. Jangan gunakan ayat-ayat itu khususnya dalam politik kekuasaan, kalau politik moral itu akan bagus," katanya.

Azra pun mengakui bahwa terkadang kebhinekaan dan faktor agama dipertentangkan dalam kondisi tertentu, pilkada salah satunya. Namun dia megatakan agar tidak khawatir berlebihan lantaran pertentangan antara kebhinekaan dan agama merupakan gejala universal yang tidak mungkin terelakan.

Yang penting, kata dia, jangan kemudian karena faktor primordial digunakan untuk mengecam orang lain yang memiliki pandangan berbeda.

"Wajar orang Islam dekat dengan Islam lain, itu kelompoknya. Tetapi jangan kemudian menghakimi mereka yang agamanya beda dianggap munafik atau kafir, yang begitu harus dihindari," jelas Azra.




(MEL)