Fadli Zon Minta Panglima Klarifikasi Isu 5.000 Senjata

M Rodhi Aulia    •    Senin, 25 Sep 2017 11:44 WIB
senjata ilegal
Fadli Zon Minta Panglima Klarifikasi Isu 5.000 Senjata
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (tengah) menjawab pertanyaan wartawan seusai acara silaturahim Panglima TNI dengan para purnawirawan TNI di Aula Gatot Subroto Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Foto: MI/Bary Fathahilah.

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Ketua DPR Fadli Zon mendesak Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menjelaskan soal isu pembelian 5.000 pucuk senjata ilegal oleh institusi negara. Dia meminta Gatot membuka siapa yang mencatut Presiden Joko Widodo untuk membeli ribuan senjata itu.

"Karena ini persoalan yang menurut saya bukan persoalan yang biasa. Angka 5.000 itu, angka yang signifikan, dan kalau Panglima TNI berbicara seperti harusnya ada data pendukung yang kuat, bukan hanya sekadar bicara," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 25 September 2017.

Menurut dia, klarifikasi penting agar isu ini tidak terus mengundang spekulasi liar di tengah publik. Meskipun, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto sudah menjelaskan bila pernyataan Gatot tersebut hanya soal miskomunikasi saja.

"Ini diperlukan klarifikasi terkait dengan mungkin yang dikatakan pak Wiranto soal miskomunikasi atau mungkin memang ada (pembelian senjata jumlahnya 5.000). Kalau memang tetap ada, saya kira itu perlu didudukan. Jangan sampai ada spekulasi macam-macam, mungkin ada pihak yang mempersenjatai diri, mungkin angkatan apa tuh kalau dulu, angkatan kelima," ujar dia.

Fadli menambahkan informasi yang ia dapatkan, pernyataan Gatot tersebut bersifat internal. Informasi itu bukan sebuah keterangan yang disampaikan khusus kepada media.

Sementara itu, Menkopolhukam Wiranto sudah meluruskan isu pembelian 5.000 pucuk senjata ini. Wiranto mengakui ada pembelian senjata, tapi tidak berjumlah ribuan. 

"Sekarang sedang bergulir di tengah masyarakat dan menimbulkan spekulasi. Apakah ini karena keadaan Indonesia yang sudah genting, ada sesuatu kekuatan yang ingin (pemberontakan) seperti tahun-tahun dulu melakukan aksi yang mengganggu stabilitas dan keamanan nasional," kata Wiranto, Minggu 24 September 2017.

Wiranto mengaku telah berkomunikasi dengan Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan institusi terkait. Wiranto menyimpulkan isu ini menjadi liar karena faktor komunikasi yang tidak tuntas.

"Setelah saya tanyakan, saya cek kembali, ternyata ini berhubungan dengan pembelian 500 pucuk senjata buatan Pindad, yang diperuntukkan bagi sekolah intelijen oleh BIN," ucap dia.


(OGI)