Jokowi Ingatkan AHY soal Lanskap Politik

Achmad Zulfikar Fazli    •    Kamis, 10 Aug 2017 20:06 WIB
presiden jokowi
Jokowi Ingatkan AHY soal Lanskap Politik
Agus Harimurti Yudhoyono (kanan) dan Gibran Rakabuming Raka (kiri) usai pertemuan tertutup di Kompleks Istana Kepresidenan. Foto: Antara/Puspa Perwitasari.

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo memberikan wejangan kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dia membahas soal perpolitikan ke depan dengan putra sulung Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono itu.

"Tadi bicara masalah banyak terutama masalah anak-anak muda, mengenai politik ke depan, lanskap politik ke depan seperti apa," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Dalam kesempatan itu, kata dia, AHY juga menyampaikan undangan peluncuran The Yudhoyono Institute. Lembaga riset itu akan fokus pada isu-isu strategis dalam ruang lingkup regional, nasional, dan global. AHY adalah direktur eksekutif The Yudhoyono Institute.

Sayangnya, Jokowi tak bisa memenuhi undangan tersebut lantaran telah punya agenda lain. Namun, ia tak merinci agenda apa. "Kebetulan saya ada acara yang lain jadi saya pamit ndak ke sana," kata dia.

Sementara itu, soal lanskap politik kerap didengungkan Presiden di beberapa kesempatan. Dia mengingatkan publik untuk mewaspadai perubahan di bidang politik dan ekonomi. Semua imbas dari kemajuan teknologi. 

"Sekarang telah terjadi pergeseran, perubahan global yang begitu sangat cepatnya. Saya memperkirakan dalam 5-10 tahun yang akan datang ada sebuah lanskap politik, dan ekonomi berubah," kata Jokowi Jokowi saat membuka Pasanggirinas dan Kejurnas ASAD 2017 di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa 8 Agustus 2017.

Dia mencontohkan, kehadiran telepon pintar saat ini sudah mengubah kehidupan masyarakat. Publik, terutama anak muda, biasa memakainya untuk membaca berita hingga menonton televisi.

"Pergeseran inilah akan adanya perubahan, inilah kita sadari semuanya, kita waspadai, jangan sampai anak-anak kita terintervensi oleh karakter tidak baik," jelas dia. 

Kepala Negara tak ingin peradaban budaya barat yang kurang baik merasuki pikiran anak muda Indonesia. Padahal, kata dia, budaya Nusantara yang selama ini berkembang dikagumi negara lain.

"Budi pekerti, budi luhur kita, kesopanan kita, kesantunan kita, inilah kekuatan negara kita Indonesia," jelas dia.


(OGI)