Selamat Pagi Indonesia

Keniscayaan Tauhid adalah Menerima Orang Lain yang Berbeda

   •    Jumat, 19 May 2017 15:05 WIB
nkri
<i>Keniscayaan Tauhid adalah Menerima Orang Lain yang Berbeda</i>
Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka Maman Imanulhaq. (Foto: MI/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka Maman Imanulhaq menyebut Indonesia bukanlah negara Islam melainkan tempat dimana nilai Islam dan nilai keagamaan lain bisa tersemai dengan baik.

"Negara yang menjadi contoh bagaimana kehidupan beragama berlangsung. Saling menghormati perbedaan dan saling mencintai untuk membangun kepentingan bangsa," ujarnya dalam Selamat Pagi Indonesia, Jumat 19 Mei 2017.

Dengan semboyan bhineka tunggal ika, perbedaan-perbedaan di Indonesia dianggap sebagai bagian dari konsekuensi. Ragam suku, budaya, bahkan agama merupakan anugerah bagi Indonesia untuk mampu menjadi negara yang toleran dengan perbedaan.

Begitu pula dengan Islam. Maman mengatakan meskipun berbeda, semua penganut agama tetap menyatakan bahwa tuhan itu satu. Mereka yang mengaku bertuhan satu namun masih mencaci maki saudaranya patut dipertanyakan ketauhidannya.

"Karena keniscayaan tauhid adalah menerima orang lain yang berbeda. Bersikap pluralisme menjadi bagian hidup kita apalagi Indonesia dengan bhineka tunggal ika," ujar politikus PKB itu.

Maman menilai unsur pertama munculnya generasi yang anti terhadap perbedaan adalah keluarga. Begitu pula sebaliknya. Diapun berharap keluarga sebagai lapisan pertama pendidikan bagi anak mengenalkan betul bahwa perbedaan bukan untuk dimusuhi.

"Berikan pemahaman kepada anak-anak kita tentang pentingnya hidup berbeda. Kita sampaikan bahwa mencaci maki orang yang tidak sama dengan kita dilarang oleh agama," katanya.

Pendidikan tentang toleransi juga berlaku bagi civitas akademik di sekolah maupun kampus. Bahwa setelah keluarga ada sekolah yang harus mampu menguatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Termasuk pula di khutbah jumat, di majelis-majelis agar tidak ada lagi ujaran kebencian hanya karena perbedaan.

"Mimbar jumat harus jadi mimbar yang menebar kebaikan bukan mimbar gibah apalagi fitnah," jelasnya.




(MEL)