Prabowo Diminta Memahami Utang Negara

   •    Senin, 09 Jul 2018 14:16 WIB
utang luar negeriprabowo subiantounivterbuka
Prabowo Diminta Memahami Utang Negara
Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang kepemudaan, Dedek Prayudi.

Jakarta: Ketua Umum Partai Gerindra Parbowo Subianto disarankan memahami dan mempelajari ekonomi negara, utamanya terkait utang. Sebab, tidak semua utang negara itu buruk.
 
Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang kepemudaan, Dedek Prayudi prihatin atas kekeliruan Prabowo yang menyebut negeri ini hidup dari utang. Menurut Dedek, orasi prabowo itu kedangkalan pemahaman.
 
"Saya terkejut, politikus sekelas Pak Prabowo tidak memiliki pemahaman dalam menilai sehat tidaknya keuangan negara. Beliau mengambil contoh yang salah, menganalogikan utang negara dengan ibu-ibu membeli sayur," kata Uki dalam keterangan tertulisnya, Senin, 9 Juli 2018.
 
Uki mengatakan, utang dapat dikategorikan utang baik (good debt) dan utang tidak baik (bad debt). "Saya heran, pak Prabowo yang dikenal suka membaca tidak paham perbedaan good debt dan bad debt," ujar Uki.
 
Uki menjelaskan, good debt adalah pinjaman untuk membiayai hal-hal yang menggerakkan roda ekonomi lebih cepat dan besar.
 
"Good debt berutang untuk menambah laju produktifitas bangsa atau borrow money to make money. Misalnya pembangunan fasilitas dan sarana publik seperti pembangkit listrik, jalanan, bendungan maupun bandara yang manfaatnya dirasakan rakyat untuk menunjang produktifitas baik secara langsung maupun secara multiplier effect," terang Uki.

Baca: Prabowo Sebut Pemerintah tak Peka Rakyat Susah

Uki juga menyinggung soal meningkatnya total nilai aset BUMN dan Produk Domestik Bruto Indonesia sebagai indikator naiknya produktifitas Indonesia.
 
"BUMN kita sebagai salah satu mesin produktifitas bangsa juga mengalami kenaikan nilai aset sekitar Rp2700 triliun (60%) dan PDB bangsa ini secara umum meningkat sekitar Rp3 ribu triliun sejak Jokowi dilantik hingga hari ini dan akan lebih cepat lagi nanti seiring rampungnya pengerjaan proyek-proyek infrastruktur," lanjut Uki.
 
Uki juga menjelaskan masalah bad debt yang adalah penggunaannya cenderung konsumtif atau borrow money to spend money, seperti membeli beras, sayur maupun bantuan tunai yang tak mendorong produktifitas bangsa.
 
"Kalau ini terjadi, itu baru krisis. Rakyat berarti sudah tak cukup produktif untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Nyatanya enggak gitu. Belanja bulanan publik tetap meningkat seiring bertambahnya produktifitas, penduduk miskin berkurang padahal jumlah penduduk terus meningkat menurut data resmi BPS," katanya.
 
Selain itu kata Uki, rasio utang kita dengan PDB masih ditaraf sehat yakni kisaran 29% dari PDB, separuh dari batas yang digariskan UU.


(FZN)