Presiden tak Ingin Ada Anak Putus Sekolah

Achmad Zulfikar Fazli    •    Jumat, 16 Jun 2017 10:12 WIB
sekolah
Presiden tak Ingin Ada Anak Putus Sekolah
Presiden Joko Widodo membagi-bagikan buku di Jayapura. Foto: ANTARA/Indrayadi T.H.

Metrotvnews.com, Purwokerto: Presiden Joko Widodo tidak ingin ada anak putus sekolah. Pasalnya, persaingan antarnegara ke depan semakin ketat sehingga Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tangguh.

"Anak-anak tahu bahwa kita sekarang ini, pemerintah ingin semua anak harus sekolah dengan kondisi baik. Yang putus sekolah bisa melanjutkan lewat paket A, paket B, paket C, anak-anak yang lain juga diberikan anggaran diberi dana agar dari SD sampai SMA/K semuanya bisa membiayai sekolah dengan KIP," kata Jokowi di SMA N 2 Purwokerto, Banyumas, Jumat 16 Juni 2017.

Pada kesempatan itu, dibagikan 3.317 Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk SD, SMP, SMA/SMK, serta paket B dan C. Dana yang diberikan untuk SD sebesar Rp450 ribu, SMP Rp750 ribu, dan SMA/K Rp1 juta. "Tahun depan kalau ada anggaran pemerintah berlebih, ditambah," katanya. 

Presiden menegaskan, dana dalam program KIP harus diperuntukkan hal-hal menyangkut keperluan sekolah, seperti membeli tas, buku, seragam, dan sepatu. Ia mengatakan dana tersbeut tidak boleh untuk membeli keperluan lain, seperti pulsa.

"Janjian kita, kalau uang di kartu dipakai pulsa dicabut. Janjian ya. Untuk berkaitan sekolah, tidak ada yang lain," katanya.

Kepala Negara sekaligus menyelipkan pesan keberagaman dalam acara yang dihadiri ribuan siswa tersebut. Ia mengatakan Indonesia merupakan negara besar dengan 17.000 pulau, 516 kabupaten/kota, 34 provinsi, 714 suku, dan lebih dari 1.100 bahasa lokal.

"Artinya apa? Kita beragam, bermacam-macam, tetapi kita tetap satu dalam bingkai NKRI. Kita tahu memiliki Pancasila," katanya. (Antara)



(OGI)