Poros Prabowo Dinilai Contoh Buruk Berdemokrasi

Achmad Zulfikar Fazli    •    Kamis, 09 Aug 2018 08:48 WIB
pilpres 2019
Poros Prabowo Dinilai Contoh Buruk Berdemokrasi
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) seusai melakukan pertemuan di Kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MI/Arizona )

Jakarta: Keributan antara partai koalisi pendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai sebagai contoh buruk dalam berdemokrasi. Dalam berdemokrasi, partai politik seharusnya dapat mempertunjukkan sikap persaudaraan.
 
"Perjuangan dalam Demokrasi seharusnya tidak berproses demikian. Para elite seharusnya Dapat memberikan contoh bahwa Demokrasi adalah menggembirakan, dan justru memperkuat persaudaraan," kata Sekjen PKP Indonesia Verry Surya Hendrawan kepada Medcom.id, Jakarta, Kamis, 9 Agustus 2018.
 
Menurut dia, sikap memperkuat persaudaraan itu sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang selalu merangkul, terbuka dengan semua pihak dan mengedepankan kepentingan nasional.
 
Tensi tinggi di koalisi Prabowo mencuat setelah politikus Partai Demokrat Andi Arief menyindir Prabowo sebagai jenderal kardus. Andi kecewa karena uang Prabowo lebih memilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno untuk menjadi calon pendampingnya di Pilpres 2019.

Baca: Andi Arief Sebut Prabowo Jenderal Kardus

Andi menyebut Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra itu membayar mahar ke Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), masing-masing Rp500 miliar untuk menjadi calon wakil presiden usungan oposisi.
 
Namun, pernyataan Andi itu dibantah oleh Gerindra, PAN dan PKS. Bahkan, PAN mengancam akan membawa Andi ke ranah hukum.
 
Verry pun mengaku prihatin melihat keributan yang terjadi di koalisi Prabowo. Menurut dia, kejadian itu membuat masyarakat dipaksa menyaksikan sikap saling sindir dan cerca.
 
"Ini bukan sifat luhur bangsa Indonesia," tegas dia.




(FZN)