Pimpinan MPR: Empat Pilar Alat Pemersatu Bangsa

Gervin Nathaniel Purba    •    Senin, 13 Nov 2017 17:18 WIB
berita mpr
Pimpinan MPR: Empat Pilar Alat Pemersatu Bangsa
Wakil Ketua MPR RI Mahyudin (Foto:Dok.MPR RI)

Kutai Timur: Wakil Ketua MPR RI Mahyudin melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kabupaten Kutai Timur di Kantor Bupati Kutai Timur, Sangatta, Kalimantan Timur, Senin 13 November 2017.

Di hadapan peserta sosialisasi, ditayangkan tragedi yang terjadi di Suriah akibat provokasi dan adu domba. Dari tayangan tersebut, Mahyudin menegaskan bahwa provokasi dan adu domba telah membuat rakyat Suriah terbelah. Bukan hanya rakyat, perpecahan juga terjadi di kalangan ulama dan pemimpin negara tersebut.

“Kita bersyukur Indonesia tidak mengalami kejadian seperti di Suriah. Karena itu jaga persatuan dan kesatuan," ucap Mahyudin, di hadapan peserta yang merupakan generasi muda yang tergabung dalam KNPI.

Sosialisasi Empat Pilar MPR, menurut Mahyudin, adalah cara untuk menanamkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati dan siap berkorban untuk NKRI. “Hati-hati. Persatuan jangan kita pertaruhkan. Sosialisasi Empat Pilar MPR ini adalah untuk menjaga persatuan," katanya.

Politikus Golkar itu meminta generasi muda untuk tidak melupakan sejarah. Belanda bisa menjajah Indonesia ratusan tahun karena politik divide et impera atau politik pecah belah dan adu domba.

“Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Jangan mengulangi sekali lagi pecah belah dan adu domba," kata dia.

Para pendiri bangsa, lanjut Mahyudin, sepakat mendirikan NKRI untuk memayungi ratusan suku bangsa, ribuan pulau, agama yang beragam. "(NKRI) ini jangan diutak-atik," tegasnya.

Indonesia adalah bangsa yang hebat karena bisa menyatukan keragaman dan kemajemukan rakyatnya. Mahyudin mencontohkan Belgia tidak bisa menyatukan dua etnis (Perancis dan Belanda). Begitu pula dengan bangsa Arab yang sulit bersatu. Sedangkan Indonesia bisa mempersatukan keragaman.

"Banyak orang (pihak atau bangsa lain) yang tidak suka Indonesia bersatu. Tanpa Pancasila, Indonesia tidak pernah ada. Jika Pancasila diganti, NKRI bisa bubar. Jangan mau dipecah belah," ucap Mahyudin.


(ROS)