Studi Banding E-Voting Sia-sia

Putri Anisa Yuliani    •    Kamis, 16 Mar 2017 05:59 WIB
revisi uu pemilu
Studi Banding E-Voting Sia-sia
Wakil Ketua Komisi II Lukman Edy. Foto: MI/Mohamad Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah negara maju seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Belanda dilaporkan telah meninggalkan pemungutan suara elektronik alias e-voting sebagai sistem pemilihan umum. Alasannya, sistem itu dinyatakan riskan manipulasi dan rawan peretasan sehingga membahayakan hasil pemilu.

Karena itu, saat Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang (Pansus RUU) Penyelenggaraan Pemilu melakukan studi banding e-voting selama enam hari ke Jerman dan Meksiko, kecaman kepada DPR datang bertubi-tubi.

Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Yenni Sucipto, menilai selain sia-sia karena sudah tidak lagi relevan, studi banding e-voting merupakan pemborosan.

Ia memprediksi perjalanan anggota Pansus RUU Penyelenggaraan Pemilu itu bisa mencapai Rp7,8 miliar (lihat grafik). "Itu dengan asumsi berbagai tunjangan," kata Yenni saat dihubungi, kemarin.

Nominal itu, menurut Yenni, bisa lebih tinggi lagi karena ada kemungkinan perwakilan pemerintah ikut dalam kunjungan.

"Biaya bisa menjadi dua kali lipat (sekitar Rp15 miliar) karena setiap anggota membawa staf ahli dan ada sekretariat dewan yang ikut. Biaya juga bisa bertambah lagi jika ada perwakilan pemerintah yang ikut."



Pengamat kebijakan publik Eka Sakapurnama pun menilai pendekatan studi banding anggota DPR dalam menyusun aturan sering tak memikirkan konteks dan kesesuaian nilai yang ada di Indonesia. Padahal, proses penyusunan kebijakan bisa diperoleh dari berbagai sumber dan pendekatan.

Terlebih, kini dengan perkembangan teknologi yang sudah maju, orang tak perlu belajar keluar negeri untuk mempelajari konsep. Karena itu, peneliti Formappi Lucius Karus pun menilai kunjungan kerja hanya akal-akalan DPR untuk liburan. Apalagi, Jerman yang menjadi tujuan studi banding, telah menghapus e-voting.

Tetap Manual

Ketua Pansus RUU Pemilu Lukman Edy membantah tudingan Fitra yang menyebut kunjungan kerja Pansus ke Jerman dan Meksiko menghabiskan anggaran Rp15 miliar. Lukman menilai tudingan itu sebagai fitnah.

Menurut Lukman, anggaran untuk kunker ke dua negara itu tidak mencapai Rp15 miliar. Meski demikian, ia enggan membeberkan jumlah dana yang dihabiskan untuk studi banding itu.

Ia pun membantah kunjungan kerja itu hanya menghamburkan anggaran dan liburan. Pasalnya, pansus tidak hanya mempelajari e-voting, tetapi juga parpol, sistem pemilu, kuota anggota parlemen, kampanye, dan pembiayaan pemilu.

Lukman Edy mengakui mekanisme pemungutan suara dalam RUU Pemilu nantinya cenderung dilakukan secara manual ketimbang e-voting dengan rekapitulasi elektronik.

Ketua DPR Setya Novanto mengatakan, terkait target legislasi DPR yang harus tuntas dalam satu masa sidang, ia meminta seluruh komisi, badan, dan panitia khusus serta anggota DPR untuk memprioritaskan tugas-tugas legislasi.




(UWA)

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

1 hour Ago

KPK kembali memeriksa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman. Irman diperiksa sebagai saksi un…

BERITA LAINNYA