Sertifikasi Ustaz Dinilai Sangat Diperlukan

M Sholahadhin Azhar    •    Jumat, 21 Apr 2017 18:11 WIB
ramadan
Sertifikasi Ustaz Dinilai Sangat Diperlukan
Diskusi sertifikasi ustaz di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Foto: MTVN/M Sholahadhin Azhar

Metrotvnews.com, Jakarta: Wacana sertifikasi ustaz atau ulama jadi topik diskusi yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Musababnya, selama ini siaran seputar Ramadan yang memuat konten Islam dianggap tak memiliki standar khusus.

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI Asrori S. Karni mengatakan, sertifikasi ustaz harus dilihat sebagai jaminan. "Kalau ini dilihat sebagai jaminan kompetensi, tujuannya baik," kata Asrori dalam diskusi tayangan Ramadan di kantor KPI, Jakarta, Jumat 21 April 2017.

Asrori mencontohkan soal sertifikasi pengawas keuangan syariah yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia. Prosesnya, kata Asrori, sangat akuntabel dan bisa dijelaskan secara detail.

Karena itu, lanjut dia, sertifikasi ustaz dan ustazah sebagai pendakwah di televisi bisa saja dilakukan. Asal pengujinya menggunakan variabel terukur dan disepakati pihak-pihak terkait.

Asrori juga menekankan, proses sertifikasi seperti ini sudah menjadi trend di dunia internasional. Bagaimana profesi seseorang dikuatkan dasarnya melalui badan hukum. Pertanyaannya siapa yang mau memulai?

"Trend, semua hal disertifikasi. Lumrah. Tinggal nanti siapa yang mengelola. Akan bagus jika ini diinisiasi asosiasi dai sendiri," kata dia.

Komisioner KPI Pusat, Dewi Setyarini, memberi sinyal bahwa sertifikasi terhadap ustaz diperlukan. Mengingat penikmat televisi di Tanah Air sangat banyak dan beragam.

Kata Dewi, yang sangat penting dari sertifikasi adalah kompetensi dari dai atau ustaz sebagai penyiar. Dia melihat sifat dari media televisi yang persuasif harus disikapi secara bijak.

Tak hanya mengenai persuasi atau profit, tapi juga tanggung jawab moral perlu menjadi pertimbangan, kata Dewi. Hal ini yang harus dipahami pendakwah.

"Apapun yang muncul di televisi akan berpengaruh. Memang selain bicara soal profit atau rate and share, ada tanggung jawab moral," kata Dewi.


(MBM)