Menjaga Angka Kemiskinan Tetap Satu Digit

   •    Jumat, 03 Aug 2018 11:15 WIB
kemiskinan
Menjaga Angka Kemiskinan Tetap Satu Digit
Aktivitas warga yang tinggal di rumah semi permanen dan lingkungan kumuh di Kampung Bandan, Jakarta. (Foto: MI/Pius Erlangga)

Jakarta: Angka kemiskinan Indonesia per Maret 2018 mengalami penurunan dari 10,64 persen menjadi 9,82 persen. Penurunan ini menjadi yang terendah sejak Orde Baru.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan penurunan angka kemiskinan adalah kerja keras dan pencapaian yang perlu diapresiasi. Tugas berikutnya adalah menjaga agar angka tersebut tak kembali naik.

"Karena harus digarisbawahi 9,82 persen itu masih setara dengan 25,92 juta rakyat miskin. Masih banyak PR yang harus kita kerjakan dan pikirkan bersama," ujarnya dalam Prime Talk Metro TV, Jumat, 3 Agustus 2018.

Untuk menjaga agar angka kemiskinan tak lebih dari dua digit, Suhariyanto menyebut ada sejumlah hal yang perlu dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah menghilangkan disparitas pembangunan antara Indonesia bagian timur dan barat.

"Disparitas ini ada tidak solusinya? Misalnya mulai dibangun infrastruktur di Indonesia timur dan pedesaan," kata dia.

Tak hanya pembangunan, tingginya disparitas perekonomian antara penduduk desa dan kota juga perlu mendapat perhatian. Pasalnya, desa kerap menjadi pusat kemiskinan dalam arti penduduk miskin jumlahnya masih banyak.

Selain itu faktor yang paling berpengaruh menyumbang angka kemiskinan adalah kenaikan harga-harga pangan. Suhariyanto bahkan menyebut persentasenya mencapai angka 73 persen.

"Kita harus sama-sama memikirkan supaya harga pangan tidak berfluktuasi agar inflasinya rendah. Kalau itu bisa ditekan, daya beli kita akan naik," jelas dia.




(MEL)