Isu Angka Kemiskinan Tinggi Dipengaruhi Subjektivitas Kelompok

   •    Jumat, 03 Aug 2018 11:22 WIB
kemiskinan
Isu Angka Kemiskinan Tinggi Dipengaruhi Subjektivitas Kelompok
Pakar Komunikasi Politik Gun Gun Heryanto. (Foto: MI/Arya Manggala)

Jakarta: Pakar Komunikasi Politik Gun Gun Heryanto menyebut isu angka kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia pada dasarnya dipengaruhi oleh subjektivitas kelompok.

Betapa tidak, isu yang dilontarkan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono usai bertemu Prabowo Subianto berkaitan dengan Pilpres 2019.

"Dalam beberapa hal proses pengkapitalisasian (isu) bisa dipengaruhi oleh subjetivitas kelompok," ujarnya melalui sambungan telepon dalam Bedah Editorial Media Indonesia, Jumat, 3 Agustus 2018.

Terkait isu kemiskinan, kata Gun Gun, sentimen yang dilontarkan figur atau partai di luar kekuasaan kerap menjadi alternatif untuk mendapatkan insentif elektoral.

Terlebih, konsistensi Prabowo dan Gerindra berada di luar kekuasaan ditambah hubungan dengan PKS yang selalu klop membuat Gerindra tidak bisa beralih peran dari kelompok luar kekuasaan.

"Makanya isu yang akan menjadi kelemahan petahana seperti mengkapitalisasi pertumbuhan ekonomi, kebijakan Jokowi yang dianggap tidak pro kelompok tertentu sifatnya subjektif dan bisa dipengaruhi subjektivitas kelompok," jelas Gun Gun.

Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebutkan ada 100 juta orang miskin di Indonesia. Menurut dia angka tersebut merupakan golongan orang yang masuk kategori the bottom 40 persen dari total penduduk Indonesia.

Padahal, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan pada Maret 2018 turun sebesar 1,82 juta jiwa atau 0,82 persen dibandingkan Maret 2017. Tingkat kemiskinan mencapai 9,82 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 25,95 juta jiwa turun dibandingkan Maret 2017 yang sebanyak 28,01 juta jiwa.




(MEL)