Sisi Lain Pilkada

   •    Kamis, 11 Jan 2018 13:45 WIB
pilkada 2018
Sisi Lain Pilkada
Sejumlah penari menampilkan tarian selamat datang kepada calon bupati dan wakil bupati yang mendaftarkan diri ke KPU Kabupaten Cirebon. (Foto: MI/Nurul Hidayah)

Jakarta: Mendengar kata 'pilkada' hampir semua orang akan membayangkan adegan pertarungan politik antar-pasangan calon yang memperebutkan kekuasaan. Tapi di mata seorang budayawan, sebutlah Prie GS, pilkada tak melulu soal pertarungan politik.

"Politik kita sekarang menyenangkan, kita tidak melihat wajah politik melainkan sebuah festival perayaan rakyat. Dari aspek kebudayaan menjadi kegembiraan baru," ungkap Prie dalam Selamat Pagi Indonesia, Kamis 11 Januari 2018.

Dalam tahapan pilkada partai-partai politik kerap memberikan kejutan, mulai dari dengan siapa berkoalisi hingga penunjukan calon yang akan bertarung. Bagi Prie keterkejutan dalam politik adalah sebuah keniscayaan.

Prie mengatakan, jangan berharap politik akan berjalan lurus-lurus saja dan tertib aturan. Akan ada kejutan-kejutan yang sudah pasti terjadi dan harus dipahami sebagai sendi dalam konstalasi politik.

Salah satu yang menarik perhatian adalah ketika masa pendaftaran. Calon pasangan kepala daerah yang akan maju dalam pilkada datang ke Komisi Pemilihan Umum setempat dengan menunjukkan simbol-simbol tertentu.

Ada yang menunggangi gajah, mengenakan pakaian dan aksesoris khas daerah, hingga diawali dengan tarian khas nusantara.

"Secara tidak langsung, keragaman di Indonesia itu bukan lagi disimbolkan tapi dinyatakan. Jadi bukan disimbolkan seakan kita tidak beragam, mereka (para paslon pilkada) hanya menegaskan bahwa Indonesia memang beragam," katanya.

Penggunaan simbol oleh beberapa calon kepala daerah yang bertarung dalam pilkada juga menunjukkan bahwa meski berbeda pilihan, keragaman membuat hajat pilkada semakin semarak.

Pengamat Komunikasi Politik Lely Arianie menyebut tak peduli bagaimana latar belakang para calon, ketika memang memiliki integritas, kredibilitas, dan kapasitas mumpuni, mereka diberikan kesempatan untuk adu untung dalam pilkada.

"Model-model seperti mengomunikasikan bahwa dalam teorinya manusia politik itu makhluk pengguna simbol. Baik simbol yang melekat pada kandidat maupun partai pengusung pasti menyiratkan sesuatu," jelas Lely.




(MEL)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

6 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA