Start-up Harusnya Pahami Peran untuk Gerakan Ekonomi

Whisnu Mardiansyah    •    Kamis, 13 Sep 2018 10:28 WIB
startup
<i>Start-up</i> Harusnya Pahami Peran untuk Gerakan Ekonomi
Anggota Komisi VII DPR-RI Fraksi Golkar Satya W Yudha. (FOTO: MI/Irfan)

Jakarta: Wakil Ketua Komisi I DPR RI Satya Yudha mengkritisi salah satu perusahaan aplikasi ojek online yang berekspansi ke luar negeri. Sebab, pasar dalam negeri masih luas.

"Pemain didorong untuk menjadi penguasa dalam negeri. Baru kuasai pasar luar negeri. Belajar dari Tiongkok yang punya keunggulan komparatif dan kompetitif dengan teknologi yang dimiliki," kata Satya di Jakarta, Rabu, 12 September 2018.

Hal senada pun diungkapkan Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan Eva Kusuma Sundari. Ia menilai, kehadiran perusahaan start-up besar (unicorn) semestinya membantu pemerintah yang sedang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi di Tanah Air.

Baca: Start-Up jadi Masa Depan Ekonomi Indonesia

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan Eva Kusuma Sundari--Medcom.id/M Rodhi Aulia.

Perusahaan start-up ini seharusnya mampu memahami peran mereka mengerakkan ekonomi Indonesia, apalagi di saat rupiah tengah melemah.

"Indonesia perlu tingkatkan index kompetisi agar para unicorn tetap menggarap pasar dalam negeri. Karena potensi kita sangat besar," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mendesak Pemerintah membuat aturan yang jelas soal kinerja para unicorn.

Dia pun menilai pemerintah kurang mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis yang bergerak ke arah digital.

"Regulasi tidak ada. Yang sekarang hanya bersifat parsial. Contoh ride sharing hanya diatur PP Menhub. Padahal bisnis unicorn seperti Go-Jek berkembang luas menjadi 10 bidang," jelasnya.


(YDH)