Indonesia Dinilai tidak Perlu Impor Kapal Selam

Tesa Oktiana Surbakti    •    Selasa, 21 Mar 2017 10:43 WIB
kapal selam
Indonesia Dinilai tidak Perlu Impor Kapal Selam
Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan--Metrotvnews.com/M Rodhi Aulia

Metrotvnews.com, Jakarta: Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan melakukan kunjungan ke PT PAL Indonesia di Surabaya. Luhut meninjau perkembangan proyek Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) maritim, yang sedang dikerjakan di PT PAL seperti kapal selam.

"Kapal (selam) ini lebih bagus dari yang pertama. Ada 206 orang yang dikirim ke luar negeri untuk sekolah dan kembali ke Indonesia," ujar Luhut, Selasa 21 Maret 2017.

Mereka ini, lanjut Luhut, menjadi embrio agar Indonesia bisa membangun kapal-kapal bagus lainnya. Luhut optimistis tidak perlu impor.

Dalam pertemuan dengan jajaran direksi PT PAL, Satgas Angkatan Laut, hadir pula sekitar 50 pekerja Indonesia yang ikut pelatihan pembangunan kapal di Korea Selatan. Proyek ini adalah bagian dari kerjasama antara Kementerian Pertahanan dengan galangan kapal asal Korea Selatan, DSME.

Kerja sama ini meliputi pembuatan tiga kapal selam dan mendidik sumber daya manusia Indonesia belajar membuat kapal selam ke negara tersebut.

"Anda kembali dari Korea Selatan untuk mengembangkan Alutsista kita. Saya percaya kalian dapat menciptakan yang lebih canggih lagi di masa datang," tutur Luhut dalam pertemuan tersebut.

Baca: Singapura dan Australia Terkecoh Kapal Selam Indonesia

Ia menambahkan, bagus atau tidaknya kualitas kapal selam tersebut bergantung pada pekerjanya. Untuk itu Luhut meminta untuk mempertahankan etos kerja dan disiplin. Namun, apa yang sudah dicapai ini belum sebaik beberapa negara tetangga Indonesia, seperti Vietnam.

"Kami akan mempelajari mengapa Vietnam bisa mengekspor sampai 300 kapal dalam setahun. Vietnam ini negaranya ebih kecil dengan jumlah penduduknya hanya 1/6 dari jumlah masyarakat Indonesia," urainya.

Dalam beberapa kunjungannya ke pabrik Cassa, Airbus dan banyak lagi, orang-orang Indonesia diakui keahliannya tidak kalah dari pekerja negara lain. Karena itulah kita harus percaya diri dan yakin bisa mengembangkan industri ini.

"Ini penting agar kita bisa menjadi bangsa besar. Kita bisa buat sendiri tidak perlu impor, sehingga kita bisa menjadi negara bahari yang hebat," paparnya.

Dalam kunjungan ini, Luhut juga meminjau Terminal Teluk Lamong. Pada kesempatan tersebut Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang ikut mendampingi Menko Maritim menyampaikan permohonan agar pemerintah pusat memberikan wewenang perizinan pengembangan pelabuhan kepada provinsi.

"Dari Jakarta kita beri tahu saja, diinfokan ada begini. Kalau itu terjadi saya kira akan banyak menghemat cost kita," kata Menko Maritim.

Di lain sisi, pemerintah menginginkan adanya efisiensi produksi, pengelolaan produktivitas dan disiplin kerja. Utamanya dalam kerja sama antara Pelindo III dan pemerintah provinsi.

"Kalau melihat Pelindo III, ini perusahaan yang sangat sehat. Tetapi tidak boleh bekerja sendiri juga, baiknya membangun kerja sama, misalnya dengan Perusda dan juga dengan Gubernur maupun sektor swasta yang ada di Jawa Timur ini. Sehingga ekonomi bisa tumbuh bagus dan merata," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Luhut menyinggung masih adanya praktik monopoli di pelabuhan sehingga menghambat produktivitas dan efisiens. "Tidak boleh lagi ada monopoli di pelabuhan, sehingga harga-harga bisa ditekan," imbuh Luhut.

Mengenai masih adanya tumpang tindih kewenangan pengelolaan pelabuhan antara Pelindo dan Kementerian Perhubungan, Menko Luhut mengatakan pemerintah sedang membenahi hal tersebut.

"Menteri Perhubungan sudah mengerjakan ini dengan cepat dan akan menyerahkan ke Pelindo, mungkin juga ke swasta karena kalau semua pembangunannya memakai APBN nanti akan lama selesai ya," katanya.

Dia pun meminta pengelolaan pelabuhan untuk menertibkan kapal-kapal yang masih membuang sampah ke laut dan menerapkan garbage fee untuk mengurangi pembuangan sampah ke laut.
(YDH)